Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan salah satu aspek yang menghambat masyarakat di provinsi yang ia pimpin tersebut adalah standar gaya hidup yang terlalu tinggi. Ia bahkan menyebut gaya konsumtif masyarakatnya sebagai sebuah penyakit yang perlu disembuhkan. 

“Orang Jawa Barat juga punya penyakit konsumsi. Yaitu gaya hidupnya relatif tinggi,” kata Dedi Mulyadi dilansir Olenka.id Selasa (11/8/2026). 

Baca Juga: Gegara Prabowo Puji Bahlil, Kecerdasan Presiden RI Dihitung Satu-satu: Soekarno hingga SBY Grade A, Jokowi Paling Rendah, Nggak Punya Ijazah

Generasi Jawa Barat sekarang, lanjut Dedi Mulyadi cenderung menghabiskan waktu dan uang mereka untuk hal-hal yang sebenarnya tak punya manfaat jangka panjang. Mirisnya lagi standar gaya hidup mereka dipatok berdasarkan standar orang lain, bukan dipatok berdasarkan kemampuan masing-masing. 

“Kemudian menghabiskan waktu itu untuk hal yang bersifat produktif. Hari ini passionnya tinggi menghabiskan waktu untuk yang tidak produktif. Kemudian imajinasinya tinggi. Ingin ikuti orang lain kemampuannya terbatas,” ujarnya. 

“Misalnya pegawai negeri golongan II/D jaman dulu dengan II/D sekarang. Jauh kualitas hidupnya,” tambahnya. 

Dia kemudian membandingkan gaya hidup masyarakat pada generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.  Menurut Dedi kualitas hidup mereka sangat jomplang padahal generasi dulu sama sekali tidak pernah dicekoki ilmu  entrepreneurs. 

Bahkan biaya pendidikan serta kesehatan di era itu juga tergolong mahal, namun mereka masih berhasil mengumpulkan aset, ini sangat berbeda dengan generasi sekarang, kendati pendidikan dan kesehatan banyak yang telah digratiskan namun kualitas hidup mereka justru anjlok.

“Orang tua dulu tidak mengenal entrepreneurs. Tapi sanggup menyekolahkan anaknya padahal sekolahnya dari mulai SD sampai perguruan tinggi bayar. Kemudian rata-rata punya rumah, rata-rata punya tanah,” ucapnya. 

Baca Juga: Standar Kecerdasan Indonesia: Dulu Habibie yang Lulus Cumlaude di Jerman, Sekarang Bahlil yang Disertasinya Nyontek

“Hari ini sekolahnya udah gratis, rata-rata orang tidak punya rumah dan tidak punya tanah. Kenapa? Problemnya di mana? Di tingkat konsumsi. Dulu orang tua konsumsinya rendah semua diproduksi sendiri. Tidak ada budaya jajan. Passionnya belum begitu menonjol,” tambahnya memungkasi.