RedDoorz juga melihat adanya perubahan perilaku wisatawan, khususnya dari kalangan Gen Z dan milenial, yang kini semakin dipengaruhi oleh platform digital maupun media sosial dalam menentukan destinasi wisata dan akomodasi.
Wisatawan Gen Z cenderung lebih aktif melakukan riset sebelum memesan penginapan, mulai dari membandingkan review, aksesibilitas lokasi, harga, hingga tampilan visual properti di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Sementara itu, wisatawan milenial umumnya lebih fokus pada kenyamanan, fasilitas yang andal, lokasi strategis, serta pengalaman menginap yang praktis untuk keluarga maupun wisata dalam grup.
“Untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin beragam, kami terus memperkuat strategi multi-brand di Yogyakarta melalui jaringan SANS dan URBANVIEW yang menyasar segmen wisatawan berbeda, mulai dari wisatawan yang sensitif terhadap harga, hingga wisatawan yang mencari pengalaman menginap lebih modern dan estetik,” tambah Ovaldo.
Sepanjang 2025, SANS Hotel menjadi brand dengan tingkat okupansi tertinggi, yakni 1,3 kali lebih tinggi dibanding rata-rata hotel lain di Kota Jogja. Hal ini menunjukkan naiknya minat wisatawan terhadap akomodasi terjangkau dengan konsep lifestyle dan desain yang lebih menarik secara visual.
Baca Juga: RedDoorz Catat Kenaikan Okupansi 64% Selama Lebaran 2026
Tren ini turut diamini oleh para pemilik properti. Puspita Melati, pemilik SANS Hotel Nagari Malioboro, menceritakan bahwa performa propertinya selama ini tidak lepas oleh dukungan dan keterlibatan langsung RedDoorz dalam operasional hotel.
“Sebelum dikelola langsung bersama RedDoorz, rata-rata tingkat hunian properti kami berada di kisaran 40%. Kini, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 75%. Hal ini berkat dukungan keahlian operasional dari RedDoorz. Kolaborasi dengan RedDoorz telah membantu kami memperluas jangkauan pasar, sekaligus tetap konsisten menyajikan pengalaman menginap yang nyaman bagi para tamu,” ujarnya.
Melihat potensi tersebut, RedDoorz akan terus memperluas jaringan propertinya di Yogyakarta, termasuk melalui pengembangan portofolio hotel yang dikelola langsung oleh perusahaan (company-operated) dan strategi multi-brand perusahaan. Sepanjang 2026, RedDoorz menargetkan penambahan sekitar 96 properti baru di Yogyakarta.
“Melalui strategi multi-brand, kami ingin memastikan RedDoorz dapat terus menjawab perubahan kebutuhan wisatawan saat ini sekaligus membantu pemilik properti meningkatkan performa bisnis mereka secara lebih berkelanjutan,” tutup Ovaldo.