Posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Senin (20/7/2026) masih menjadi perbincangan publik. Tidak seperti biasanya, Gibran terlihat duduk sejajar dengan para Menteri Koordinator (Menko), alih-alih berada di samping Presiden Prabowo Subianto.

Fenomena tersebut memunculkan berbagai spekulasi. Salah satunya datang dari peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, yang menduga ada pesan politik dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kepada putranya.

Dalam pernyataannya di Forum Keadilan TV, Sobary mengaku melihat posisi duduk Gibran bukan sekadar persoalan teknis, melainkan simbol yang sarat makna politik.

Baca Juga: Ramai Seruan Prabowo Cari Wapres Baru, Gibran Mendadak Berkoar soal Koruptor Harus Dimiskinkan

"Jadi dugaan saya itu barangkali ada pesan dari bapaknya, 'Kamu mesti begini, mesti begini'. Nah, begini-begini itu antara lain, 'Nanti kalau sidang kamu jangan jejer'. Jangan jejeran," ujar Sobary, dikutip Selasa (28/7/2026).

Menurut budayawan tersebut, duduk bersama para Menko dapat dimaknai sebagai bentuk "merendah" secara simbolis. Namun, di balik itu, ia menduga terdapat pesan agar Gibran menunjukkan posisi yang berbeda dari Presiden Prabowo.

"Itu artinya apa? Kamu frontal, berseberanganlah di tempat lain. Kamu duduk bersama Menko-menko itu realitas politiknya, wujud politiknya, ya kamu menempatkan dirimu lebih rendah dari jabatanmu karena kamu berada bersama Menko," jelasnya.

Baca Juga: Denny Indrayana Minta Gibran Lengser Sebelum 20 Oktober 2026: Republik Masih Punya Harapan

Sobary bahkan menilai posisi tersebut menggambarkan adanya jarak simbolik antara Gibran dan Prabowo dalam sidang kabinet.

"Kamu rendah. Tapi rendah itu bukan rendah yang dimaksud. Kamu harus berani berhadapan, berani berseberangan. Kan seberangan itu. Kalau harusnya kan jejeran ini, seberangan. Dia disuruh berseberangan itu oleh bapaknya. Kira-kira macam gitu," lanjutnya.

Meski demikian, pernyataan Sobary masih sebatas dugaan dan belum pernah dikonfirmasi oleh pihak Istana maupun keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Pemerintah sendiri telah memberikan klarifikasi terkait polemik tersebut. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan perubahan posisi duduk dalam Sidang Kabinet Paripurna semata-mata dilakukan untuk kebutuhan teknis dan tidak berkaitan dengan dinamika politik di internal pemerintahan.

Baca Juga: Denny Indrayana Beberkan Alasan Gibran Bisa Dimakzulkan, Singgung Dugaan Korupsi dan Syarat Jabatan

"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan, bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," kata Prasetyo.

Kendati telah dibantah oleh pemerintah, posisi duduk Gibran di Sidang Kabinet Paripurna masih menjadi bahan diskusi di ruang publik. Sejumlah pengamat menilai simbol dan gestur dalam politik kerap memiliki makna tersendiri, sementara pihak lain menilai publik tidak perlu berlebihan menafsirkan perubahan tata letak dalam sebuah forum resmi.

Yang jelas, "misteri kursi" Gibran kali ini berhasil memancing beragam spekulasi dan kembali menempatkan hubungan antara Jokowi, Gibran, dan Prabowo dalam sorotan publik.