Presiden Prabowo Subianto mengatakan menjadi seorang pejabat berarti siap untuk dihujat serta difitnah, menurutnya hujatan serta fitnah yang datang merupakan konsekuensi menjadi seorang pemimpin. Meski demikian sebagai seorang pejabat hal itu tak boleh dimasukkan ke hati

Pernyataan ini disampaikan Prabowo saat memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah menteri dan pejabat terkait usai meninjau pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2025).

Baca Juga: Tugas Baru dari Prabowo buat Seskab Teddy di 2026

“Jadi saya sampaikan kepada saudara-saudara para pimpinan, para menteri, kepala badan, gubernur, semuanya. Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat dan siap untuk difitnah,” ujar Prabowo dilansir Sabtu (3/12/2026).

Dalam kesempatan itu Kepala Negara mengaku dirinya paham betul bahwa belakangan ini sejumlah pejabat kerap menjadi sasaran hujatan dan fitnah terutama ketika mereka turun meninjau lokasi bencana banjir bandang di  Sumatra Barat, Sumatra Selatan dan Aceh 

Namun demikian, ia meminta seluruh jajarannya untuk tidak patah semangat dalam bekerja dan tetap fokus melayani masyarakat. Ia menegaskan, hujatan dan fitnah tersebut sebaiknya dijadikan bahan evaluasi agar kinerja pemerintah semakin baik ke depannya.

“Tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat. Semua itu kita terima sebagai koreksi juga. Tidak apa-apa, walaupun itu fitnah. Kalau kita tahu di hati kita bahwa itu tidak benar, justru itu menjadi peringatan bagi kita untuk lebih waspada,” tuturnya.

Baca Juga: Prabowo Klaim Ada Pihak Swasta Mau Beli Lumpur Bandang di Aceh

Menurut Prabowo, masyarakat pada akhirnya membutuhkan bukti nyata dari kerja pemerintah, bukan sekadar pernyataan atau pembelaan.Karena itu, ia menekankan pentingnya bekerja secara sungguh-sungguh dan terukur.

“Yang dibutuhkan rakyat adalah bukti. Saya percaya dengan cara kerja berbasis bukti atau evidence based,” pungkas Prabowo.