Momen berbuka puasa atau iftar bukan sekadar waktu untuk melepas lapar dan dahaga setelah seharian menjalankan ibadah. Di berbagai belahan dunia, azan magrib juga menjadi penanda dimulainya tradisi kuliner yang sarat makna budaya.

Meja makan dihiasi hidangan khas yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga merefleksikan sejarah, iklim, bahan pangan lokal, hingga kebiasaan turun-temurun masyarakatnya.

Meski kurma tetap menjadi sunah yang hampir selalu hadir sebagai pembuka, setiap negara memiliki menu andalan tersendiri saat Ramadan. Dari sajian manis yang menyegarkan hingga hidangan berat berempah kaya rasa, berikut ragam menu khas berbuka puasa dari berbagai negara.

Baca Juga: Jelang Ramadan, AQUA Ajak Masyrakat Jaga Emosi dan Hidrasi Lewat #TemanAdemRamadan

Indonesia

Di Indonesia, berbuka puasa identik dengan takjil atau sajian manis dan ringan untuk mengembalikan energi secara cepat. Kolak pisang dengan kuah santan gula merah, biji salak yang kenyal, es buah yang segar, hingga es cendol menjadi menu favorit banyak orang. Sensasi manis dan dingin dipercaya ampuh memulihkan stamina setelah berpuasa.

Selain itu, aneka gorengan, seperti bakwan, tahu isi, dan risoles pun hampir selalu hadir sebagai pelengkap. Di berbagai daerah, menu berbuka juga diperkaya dengan hidangan khas lokal, mulai dari lontong isi hingga sajian berkuah santan yang hangat.

Baca Juga: 5 Tips Puasa Lancar Tanpa Drama Rasa Lapar, Mau Coba?

Arab Saudi dan Kawasan Timur Tengah

Di Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah pada umumnya, berbuka puasa identik dengan hidangan yang mengenyangkan namun tetap sederhana. Salah satu menu legendaris adalah Thareed, sup kaldu domba kaya rempah yang disajikan bersama roti tipis. Hidangan ini memiliki nilai historis dan kerap disebut sebagai salah satu makanan favorit sejak masa awal Islam.

Selain itu, samosa atau sambosa, pastri segitiga berisi daging cincang atau sayuran, menjadi camilan pembuka yang populer. Kudapan ini tak hanya digemari di kawasan Teluk, tetapi juga meluas hingga Asia Selatan.

Maroko

Bergeser ke Afrika Utara, di Maroko, Harira menjadi primadona saat Ramadan. Sup kental tradisional berbahan dasar tomat, lentil, buncis, dan daging ini dibumbui kunyit serta jahe, menghasilkan rasa hangat yang khas.

Baca Juga: Waspada, 5 Gangguan Kesehatan yang Sering Muncul Saat Puasa

Harira hampir selalu disajikan bersama kurma dan roti. Kombinasi ini menjadikannya sumber energi utama setelah seharian berpuasa, sekaligus simbol kehangatan keluarga saat berkumpul di meja makan.

Malaysia

Di negara tetangga, Malaysia memiliki tradisi membagikan Bubur Lambuk secara gratis di masjid-masjid selama Ramadan. Bubur nasi gurih ini dimasak dengan santan dan aneka rempah seperti cengkih serta kayu manis, lalu diperkaya potongan daging sapi atau udang.

Tradisi berbagi Bubur Lambuk bukan hanya soal makanan, tetapi juga menjadi wujud solidaritas sosial yang mempererat kebersamaan masyarakat.

Mesir

Di Mesir, Mahshi menjadi hidangan favorit keluarga saat berbuka. Aneka sayuran seperti terong, paprika, atau daun anggur diisi nasi berbumbu rempah, tomat, dan bawang, lalu dimasak hingga matang sempurna.

Baca Juga: Jangan Diabaikan, Ini 5 Tips Jaga Tubuh Tetap Sehat saat Puasa

Mahshi biasanya disajikan dalam porsi besar untuk disantap bersama. Momen berbuka pun berubah menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan keluarga besar.

Turki

Suasana Ramadan di Turki ditandai dengan kehadiran Ramadan Pide, roti panggang lembut bertabur wijen yang hanya diproduksi selama bulan suci. Roti ini menjadi simbol khas Ramadan yang selalu dinantikan.

Sebagai pendamping, sup lentil hangat kerap disajikan karena teksturnya lembut dan mudah dicerna, cocok untuk perut yang baru kembali menerima asupan makanan.

India dan Pakistan

Di kawasan Asia Selatan seperti India dan Pakistan, Haleem menjadi sajian populer saat berbuka. Hidangan ini berupa rebusan lambat dari gandum, lentil, dan daging yang dimasak hingga teksturnya menyerupai bubur kental kaya protein.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Restoran Keluarga di Jakarta Selatan untuk Buka Puasa Bersama

Selain Haleem, Biryani juga kerap menjadi menu utama dalam perjamuan besar. Nasi berbumbu dengan daging dan rempah kuat ini menghadirkan cita rasa yang kaya dan menggugah selera.

Iran

Bagi pencinta makanan manis, Iran memiliki Zoolbia atau donat goreng yang dicelupkan dalam sirup manis dan biasanya dinikmati bersama secangkir teh hangat saat berbuka.

Selain itu, Fasenjan menjadi hidangan utama yang tak kalah menarik. Semur daging dengan saus delima dan kenari ini menghadirkan perpaduan rasa asam dan manis yang khas, mencerminkan kekayaan kuliner Persia.

Meski ragam menunya berbeda-beda, makna berbuka puasa tetap sama di mana pun berada. Iftar menjadi momen untuk berhenti sejenak, berbagi hidangan, dan merayakan kebersamaan setelah seharian menahan diri. Dari Asia hingga Afrika, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, Ramadan selalu menjadi pertemuan antara ibadah, budaya, dan kearifan lokal yang hidup dalam setiap suapan.