Kisah Buffett dan Lynch menunjukkan bagaimana Apple menarik perhatian investor bukan hanya melalui produk-produknya, tetapi juga melalui kemampuan bisnis perusahaan dalam membangun ekosistem dan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.
Namun, performa historis tersebut tentu tidak dengan sendirinya menentukan kinerja saham Apple pada masa mendatang.
Kini, perhatian kembali mengarah pada strategi Apple setelah perusahaan memasuki pasar ponsel lipat. Apple memperkenalkan iPhone Duo dengan harga mulai US$1.999 di Amerika Serikat. Perangkat tersebut menggunakan desain lipat bergaya buku atau paspor, dengan layar bagian dalam 7,6 inci dan layar luar 5,4 inci.
Masuknya Apple ke pasar ponsel lipat menjadi langkah penting karena kategori tersebut selama ini masih tergolong kecil dibandingkan keseluruhan pasar smartphone. Reuters mencatat pangsa ponsel lipat diperkirakan masih di bawah 3% dari penjualan smartphone global pada 2026. Meski demikian, kehadiran Apple diperkirakan dapat meningkatkan perhatian konsumen terhadap kategori tersebut.
Sebelum peluncuran, analis juga memperkirakan perangkat lipat Apple dapat menghasilkan lebih dari US$45 miliar pendapatan hingga akhir 2027. Angka tersebut merupakan proyeksi analis, bukan hasil penjualan yang telah terealisasi.
Bagi investor, perkembangan tersebut menambah babak baru dalam perjalanan Apple. Perusahaan kini tidak hanya mengandalkan lini iPhone yang sudah mapan, tetapi juga mencoba membuka kategori produk baru sembari memperkuat layanan dan teknologi kecerdasan buatan.
Meski demikian, alasan Buffett mempertahankan Apple dalam portofolio Berkshire tidak semata-mata bergantung pada satu produk baru.
Rekam jejak investasi tersebut memperlihatkan bagaimana Buffett menilai sebuah bisnis dalam jangka panjang, termasuk kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, mengembalikan modal kepada pemegang saham, serta mempertahankan posisi kompetitifnya.
Baca Juga: Strategi Investasi Warren Buffett dalam Analogi Segelas Bir