Perspektif serupa disampaikan oleh Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology Singapore sekaligus penasihat strategis Atelier of Minds.
Ia menekankan bahwa proses belajar tidak dapat terjadi ketika anak berada dalam kondisi stres.
“Anak-anak tidak bisa belajar jika mereka terjebak dalam 'otak bawah' (downstairs brain) atau mode bertahan hidup (melawan, lari, atau membeku). Menggunakan prinsip neuroplastisitas, kami menekankan siklus Regulate-Relate-Reflect. Kita harus menenangkan tubuhnya dulu (Regulate), membangun koneksi emosional (Relate), baru kemudian kita bisa masuk ke tahap pembelajaran atau refleksi (Reflect). Pendidikan tanpa rasa aman adalah investasi yang sia-sia,” ungkap Jeremy.
Sebagai respons terhadap kebutuhan ini, Atelier of Minds hadir sebagai pusat student care dan enrichment inklusif di Jakarta Selatan yang menjembatani kebutuhan klinis dengan realitas pendidikan sehari-hari.
Melalui berbagai program seperti Atelier Minis untuk usia dini, student care untuk anak usia sekolah dasar, hingga aktivitas pengembangan diri seperti coding, art therapy, angklung, dan gym, pendekatan yang digunakan berfokus pada kekuatan unik setiap anak, bukan sekadar memperbaiki kekurangan.
Pendekatan yang diusung juga mendorong perubahan pola asuh melalui konsep brain-body parenting, yaitu mengajak orang tua memahami cara kerja otak anak alih-alih sekadar mengontrol perilaku.
Langkah sederhana seperti memberikan waktu transisi setelah sekolah, mengurangi stimulasi berlebih, dan menciptakan rutinitas yang konsisten terbukti membantu mencegah burnout sejak dini.
Momentum Hardiknas seharusnya tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga refleksi mendalam, apakah sistem pendidikan kita sudah benar-benar aman dan inklusif bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan berbeda.
Keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari nilai akademik semata, melainkan dari kemampuan anak mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, serta bertumbuh sesuai ritme uniknya.
Pada akhirnya, setiap perilaku anak adalah bagian dari proses yang sedang berlangsung. Peran orang tua dan pendidik bukan untuk memaksakan hasil akhir, melainkan memastikan setiap tahap pertumbuhan dijalani dengan rasa aman, dukungan yang tepat, dan kesempatan untuk berkembang secara utuh.
Baca Juga: Memahami Anak Neurodivergent, Kunci Pendampingan Tanpa Ekspektasi Instan