Direktur Utama Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin tengah menjadi sorotan masyarakat Indonesia setelah tragedi KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Foto-fotonya di Stasiun Bekasi Timur menyaksikan secara langsung proses evakuasi korban kecelakaan maut itu kekinian viral di media sosial.
Baca Juga: Imbas Kecelakaan Kereta di Bekasi, Prabowo Minta KAI Evaluasi
Dalam beberapa foto ia tampak murung duduk di sebuah pojok dengan latar belakang lokomotif kereta api yang ringsek. Kabarnya Bobby tak pulang ke rumah selama dua hari demi memastikan kelancaran proses evakuasi korban.
Banyak warganet yang memberi dukungan kepadanya serta mendoakannya supaya cepat bangkit setelah diterpa tragedi berdarah itu.
Perjalanan karier Bobby di KAI memang belum begitu jauh, namun pengalamannya dalam memimpin sebuah perseroan boleh diuji.
Jabatan Dirut KAI baru ia emban pada Agustus 2025 lalu. Ia menggantikan posisi pendahulunya Didiek Hartantyo yang menjabat sejak 2020 lalu.
Sebelum ditunjuk mengemban tugas berat di KAI, Bobby sebelumnya duduk di posisi Komisaris PT Len Industri yang bergerak di bidang Elektronika untuk Industri dan Prasarana.
Bertahun-tahun lamanya Bobby berkiprah di perusahan itu dan menduduki sejumlah posisi penting sebelum akhirnya naik ke pucuk pimpinan.
Di PT Len Industri Bobby sempat menjabat Dirut perusahaan pada 2021-2025. Kemudian ia juga sempat diangkat menjadi Komisaris PT Len Industri pada 21 Februari 2025.
Selain itu, Bobby juga pernah menjadi Komisaris Independen PT GMF Aero Asia Tbk sejak Juni 2020. Dia juga pernah menjadi Komisaris Utama PT Len Telekomunikasi Indonesia 2016-2019, Komisaris Utama PT Indonesian Cloud 2019-2021 dan Komisaris Utama PT Akses Prima Indonesia 2016-2021.
Jabatan Dirut tidak hanya didudukinya di KAI dan PT Len Industri, sebab dia juga pernah menduduki jabatan yang sama di PT Teknologi Riset Global Investama pada 2016 dan PT Alcatel Lucent Indonesia pada 2012-2015.
Bobby memimpin Alcatel Lucent, salah satu vendor jaringan dan solusi telekomunikasi terbesar dunia asal Prancis tersebut dalam usia 38 tahun dan menjadi profesional muda asal Indonesia pertama yang dipercaya menduduki posisi tersebut.
Baca Juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Jadi Alarm Pembenahan Sistem Keselamatan Perkeretaapian Nasional
Dari sisi latar belakang pendidikan, Bobby mendapat gelar Sarjana Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1996, dan mendapat gelar MBA di UNSW Sydney Australia pada tahun 2000 dan gelar Master of Psychology Management di Naperville pada 1999.