Pelemahan nilai tukar rupiah semakin dalam hingga nyaris menyentuh level Rp17.400 perdolar AS. Pada perdagangan Senin (4/5/2026), pelemahan nilai tukar rupiah mencetak rekor baru, yakni mencapai Rp17.394 per dolar AS.
Direktur dan Founder Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa kondisi rupiah yang terus melemah menimbulkan efek domino yang luas ke sektor riil. Hal itu tercermin dari penyesuaian harga barang akibat harga bahan baku dan biaya logistik yang naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Biaya bahan baku yang impor di beberapa industri itu cukup tinggi, seperti elektronik, otomotif, kimia dasar, hingga industri tekstil pakaian jadi,” tegas Bhima kepada Olenka pada Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Membedah Kinerja Keuangan Indofood CBP pada Kuartal Pertama 2026
Ia menambahkan, kenaikan biaya tersebut mau tak mau akan turut berimbas kepada konsumen. Pasalnya, jelas Bhima, pelaku usaha sudah terlalu lama menahan harga dengan margin usaha yang terus tergerus.
“Ini menjadi dilematis karena dengan pelemahan nilai tukar rupiah, perilaku konsumen pasti berubah dan menurunkan minat belanja, apalagi kalau ada penyesuaian harga,” lanjut Bhima.
Bhima mengatakan, dampak pelemahan nilai tukar rupiah tersebut sudah mulai dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“UMKM sudah merasakan dampak dari efek pelemahan nilai tukar rupiah, ditambah bahan baku plastik dan kemasan, itu juga naiknya luar biasa hingga lebih dari 40%, bahkan ada yang 70% akibat sektor industri yang tertekan,” katanya lagi.