Kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri atau painkiller untuk mengatasi keluhan ringan seperti sakit kepala ternyata tidak bisa dianggap sepele. Penggunaan yang berlebihan justru berisiko menimbulkan gangguan serius pada ginjal, bahkan dalam waktu yang relatif singkat.

Melansir Hindustan Times pada Sabtu (02/05/2026), seorang ahli nefrologi dari Sahadri Specialist Hospital, Dr Manan Doshi, mengungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri setiap kali merasakan ketidaknyamanan ringan dapat menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan ginjal.

Baca Juga: 5 Tanda Perubahan Urine yang Bisa Menjadi Alarm Dini Kerusakan Ginjal

Menurutnya, kemudahan akses terhadap obat-obatan yang dijual bebas tanpa resep sering kali membuat masyarakat terlalu santai dalam penggunaannya. Padahal, tanpa pengawasan medis, konsumsi obat ini berpotensi memicu komplikasi jangka panjang yang serius.

“Penyebab utama kerusakan ginjal akibat obat adalah kelompok Obat Antiinflamasi Nonsteroid atau NSAID, seperti diclofenac, ibuprofen, dan naproxen yang paling sering digunakan,” jelasnya.

Baca Juga: Kenali Gejala Awal Gagal Ginjal, Jangan Abaikan Tanda-Tanda Ringan Ini

Penggunaan obat-obatan tersebut secara berlebihan dapat mengganggu fungsi ginjal secara langsung. Meski memberikan efek pereda nyeri dalam jangka pendek, dampaknya bisa berujung pada gangguan serius pada organ vital tersebut.

Dr. Manan menjelaskan bahwa obat jenis ini bekerja dengan menghambat prostaglandin, yakni senyawa kimia yang berperan penting dalam menjaga aliran darah ke ginjal tetap optimal. Ketika mekanisme ini terganggu, aliran darah ke ginjal akan menurun dan berisiko menyebabkan Cedera Ginjal Akut, bahkan hanya dalam hitungan hari.

Baca Juga: 5 Tanda Gagal Ginjal yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

Risiko ini semakin tinggi pada individu yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal sebelumnya. Selain itu, terdapat kondisi berbahaya yang dikenal sebagai “triple whammy,” yakni ketika seseorang mengonsumsi diuretik seperti furosemide atau torasemide bersamaan dengan obat tekanan darah seperti telmisartan, enalapril, atau ramipril.

Dalam dunia nefrologi, kombinasi ini telah lama dikenal berisiko tinggi. Masing-masing obat memang dapat menurunkan aliran darah ke ginjal secara ringan, tetapi jika dikonsumsi bersamaan, efeknya bisa menjadi sangat berbahaya.

Penurunan aliran darah yang signifikan dapat memberikan tekanan mendadak pada ginjal dan meningkatkan potensi kerusakan serius.

Baca Juga: Nyeri Ulu Hati Akibat Penyakit Lambung dan Penyakit Jantung, Bagaimana Cara Membedakannya?

Kondisi ini juga kerap diperparah oleh penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal tahap awal. Pada kelompok ini, penggunaan painkiller tanpa pengawasan dapat semakin memperbesar risiko komplikasi.

Sebagai langkah pencegahan, Dr. Manan menyarankan agar penggunaan obat pereda nyeri dilakukan secara bijak, yakni dengan dosis efektif terendah dan dalam durasi sesingkat mungkin. Bagi individu dengan riwayat penyakit tertentu, penggunaan NSAID sebaiknya hanya dilakukan atas rekomendasi dokter.

“Jika nyeri berlangsung lebih dari tiga hingga lima hari, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter, bukan diatasi dengan menambah dosis obat,” tegasnya.

Kesadaran akan penggunaan obat yang tepat menjadi kunci penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang sering kali tidak disadari sejak awal.