Variasi transportasi publik di Indonesia, khususnya layanan taksi dalam dua tahun terakhir, kedatangan pemain baru yang cukup mencolok. Dengan balutan warna hijau tosca yang modern dan futuristik, armada Green Line SM (secara global dikenal sebagai Xanh SM) merupakan perusahaan transportasi asal Vietnam yang telah melakukan uji coba dan kini beroperasi di sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, sejak 2024.
Namun, di tengah upaya membangun citra ramah lingkungan, taksi ini juga kerap menjadi sorotan akibat sejumlah insiden, mulai dari pelanggaran lalu lintas hingga kecelakaan tragis yang baru-baru ini terjadi.
Green Line SM bukan sekadar layanan taksi biasa. Kehadirannya merepresentasikan ambisi kendaraan listrik global. Dengan menggunakan unit mobil listrik dari perusahaan otomotif Vietnam VinFast, layanan ini bertujuan menghadirkan transportasi yang lebih bersih, senyap, dan bebas emisi, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik.
Baca Juga: Imbas Kecelakaan Kereta di Bekasi, Prabowo Minta KAI Evaluasi
Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menginginkan kualitas udara perkotaan yang lebih baik. Namun, demikian eksistensi sebuah layanan transportasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga aspek keselamatan serta interaksinya dengan infrastruktur publik.
Ujian Keselamatan dan Kelayakan Berkendara
Belum lama ini, satu unit taksi listrik Green Line SM terlibat dalam kecelakaan di perlintasan sebidang Jalan Ampera, dekat Bulak Kapal, Bekasi, pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.50 WIB. Insiden bermula saat kendaraan diduga mengalami gangguan sistem kelistrikan hingga mogok di tengah rel.
Baca Juga: Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Anggrek Jadi Titik Balik Pembenahan Perlintasan Sebidang
Dalam waktu bersamaan, KRL Commuter Line melintas dan menabrak kendaraan tersebut. Setelah dilakukan pengereman darurat, rangkaian KRL dari arah berlawanan yang tertahan di jalur yang sama kemudian turut terdampak, hingga akhirnya terjadi tabrakan lanjutan dengan KA Argo Bromo Anggrek dari belakang.
Peristiwa ini mengakibatkan korban jiwa serta puluhan penumpang mengalami luka-luka. Insiden tersebut menjadi perhatian publik dan memunculkan diskusi luas mengenai pentingnya keselamatan berkendara, keandalan teknologi kendaraan listrik dalam kondisi darurat, serta kesiapan infrastruktur perlintasan kereta api di Indonesia.
Siapa Pemilik “Si Hijau Tosca”?
Di balik identitas warna khas tersebut, terdapat sosok pengusaha Vietnam Phạm Nhật Vượng. Ia merupakan pendiri Vingroup sekaligus salah satu orang terkaya di Vietnam.
Melalui perusahaan Green and Smart Mobility JSC, ia membawa visi besar untuk mendorong transformasi mobilitas berbasis energi bersih di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Operasional di Indonesia sendiri dijalankan dengan berbagai penyesuaian serta pengawasan untuk memastikan armada kendaraan listrik dapat bersaing di pasar lokal.
Baca Juga: Sejarah Panjang KA Argo Bromo Anggrek, Kereta Premium yang Terlibat Kecelakaan Maut di Bekasi Timur
Selain itu, peran Phạm Thu Hương juga dinilai penting dalam struktur kepemimpinan perusahaan, mencerminkan model bisnis keluarga dengan pengaruh global yang kuat.
Insiden kecelakaan yang terjadi dapat menjadi momentum evaluasi bagi manajemen Green Line SM, khususnya dalam meningkatkan standar operasional dan keselamaTimu
Keberlanjutan layanan ini ke depan akan sangat bergantung pada respons perusahaan dalam menangani insiden, memperbaiki sistem, serta menjaga kepercayaan publik terhadap layanan transportasi berbasis kendaraan listrik di Indonesia.