Belum lama ini, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap 2 Mei, sebuah momen yang identik dengan perayaan berbagai capaian akademik yang membanggakan.
Namun, di balik semarak tersebut, tersimpan kenyataan yang kerap luput dari perhatian, yakni semakin banyak anak pulang dari sekolah dalam kondisi lelah secara emosional, mudah tersulut emosi, hingga kehilangan motivasi untuk belajar. Kondisi ini bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan sinyal adanya krisis dalam regulasi sistem saraf yang masih sering terabaikan dalam praktik pendidikan saat ini.
Berbagai data memperkuat kekhawatiran tersebut. Laporan WHO Europe tahun 2024 menunjukkan bahwa tekanan sekolah meningkat signifikan, dengan 63% remaja perempuan mengaku tertekan oleh tuntutan akademik. Di Indonesia, situasi menjadi lebih kompleks bagi anak-anak neurodivergent.
Data UNICEF (2023) mencatat sekitar 3,3% anak di Indonesia atau setara 2,6 juta anak termasuk dalam kategori neurodivergent, seperti autism, ADHD, dan disleksia. Sayangnya, sistem pendidikan yang ada masih cenderung memaksakan keseragaman, sehingga banyak anak kesulitan beradaptasi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga keluarga, dengan lebih dari 80% orang tua melaporkan tingkat stres, kecemasan, hingga depresi akibat minimnya dukungan yang sesuai.
Menurut Ries Sansani, selaku Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, banyak perilaku anak yang kerap disalahartikan sebagai kemalasan, padahal merupakan respons dari kondisi saraf yang kelelahan.
“Anak bukan tidak mau belajar, tetapi tubuh dan otaknya sedang berada dalam kondisi 'tidak siap' (disregulasi). Di Atelier of Minds, kami menerapkan prinsip Matching Environment. Kebanyakan perilaku 'sulit' adalah reaksi terhadap lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhan sensorik anak. Jika kita mengubah lingkungannya agar selaras dengan profil saraf anak, mereka tidak hanya akan patuh, tapi mereka akan bersinar,” jelas Ries, dikutip Senin (4/5/2026).
Pendekatan ini menyoroti pentingnya lingkungan yang adaptif, bukan sekadar menuntut anak untuk menyesuaikan diri. Selama ini, pendekatan konvensional dalam pendidikan masih berfokus pada koreksi perilaku tanpa memahami akar biologis dan emosional di baliknya.
Baca Juga: Atelier of Minds Gandeng Agape Psychology Singapura Perkuat Layanan Enrichment Inklusif