Tomy Winata merupakan pendiri perusahaan Artha Graha Group. Laki-laki keturunan Tionghoa yang lahir pada 23 Juli 1958 ini mengaku berasal dari keluarga miskin dan hanya lulusan SMP. Nama aslinya adalah Oe Suat Hong.

Tomy merupakan anak yatim piatu yang memulai perjalanan suksesnya dari seorang kuli bangunan. Saat terhubung dengan dunia militer, dia mendapat kesempatan menjajal dunia bisnis pada tahun 1972 dalam proyek pembangunan kantor koramil di Singkawang.

Baca Juga: Dari Bob Sadino hingga Tomy Winata, Ini Deretan Pengusaha yang Berhasil Bangkit dari Keterpurukan

Kesuksesannya membangun Artha Graha Group yang mencangkup sektor properti, keuangan, agroindustri, perhotelan, pertambangan, media & hiburan, retail, hingga teknologi informasi diawali dari usahanya mengakuisisi bank-bank bermasalah. Bekerja sama dengan Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat RI, dia mengakuisisi Bank Propelat, bank terusan dari Bank Bandung yang sudah ada sejak 1967.

Setelah mengakuisisi Bank Propelat di tahun 1986 saat hampir bankrut, Tomy lantas mengubah namanya menjadi Bank Artha Graha. Setelah mampu “menyembuhkan” Bank Propelat, Tomy lantas mengembangkan bisnisnya di bidang properti.

Pemilik SCBD, Wilayah Ikonik Premium di Jakarta

Salah satu bukti kesuksesan Tomy di jalan bisnis adalah berdirinya kawasan bisnis pertama di Indonesia yang terletak di wilayah Senayan, Jakarta Selatan. Wilayah yang dikenal dengan nama Sudirman Central Business District (SCBD) tersebut dibangun oleh PT Danayasa Arthatama Tbk dari misi Tomy Winata membangun "Manhattan of Indonesia".

SCBD menerapkan model bisnis berbasis sinergi dan diversifikasi dengan memfokuskan bisnisnya pada segmen usaha properti (real estate dan hotel), serta jasa telekomunikasi. Berdiri di atas lahan seluas 45 hektare, SCBD dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan banyak bangunan ikonik di dalamnya, termasuk gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

Fokus Lakukan Konservasi

Hal menarik lainnya dari seorang Tomy Winata adalah kecintaannya pada alam. Dia merupakan pendiri Tiger Rescue Center serta menjadi penanggung jawab dan pengelola Tambling Wildlife Nature Conservation (TNWC). Berdiri sejak tahun 1996, TWNC dikelola dan didanai oleh Yayasan Artha Graha Peduli, bagian dari Artha Graha Group.

Merujuk pada perjanjian kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan TWNC tertanggal 17 Juli 2008, keseluruhan jangkauan kawasan TWNC seluas 45.000 hektare hutan merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Berkat dedikasinya menjaga populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) sebagai spesies harimau endemik terakhir asal Indonesia, TWNC meraih penghargaan dari Panthera, Organisasi Konservasi Dunia, di tahun 2014.

Berbuah Manis

Meski jalan yang ditempuh masih panjang, TWNC membagikan kabar gembira dengan diidentifikasinya lebih dari 50 ekor individu harimau sumatera di tahun 2024 lalu. Padahal, baru ada 4 ekor harimau yang teridentifikasi di TWNC pada tahun 2001 sebelumnya.

Ardi Bayu Firmansyah, Senior Management TWNC, yang sempat diwawancarai Olenka mengungkapkan kekagumannya pada Tomy. Menurutnya, Tomy Winata adalah sosok yang “gila”.

“Saya rasa belum menemukan pengusaha seperti Pak Tomy Winata yang, mohon maaf, gila mau buang duit, bakar duit. Dalam satu bulan, pengeluaran paling sedikit untuk gaji karyawan, program konservasi, patroli, hingga kegiatan CSR sosialisasi bisa mencapai Rp1,5 miliar,” ujarnya.

Mengutip National Geographic Indonesia, Tomy pernah menegaskan, “Kalau ada pegawai di TWNC yang melanggar norma dan nilai konservasi alam, kami memberikan sanksi yang sangat berat. Saya mencintai konservasi, mencintai alam, dan mencintai binatang. Itu paling utama. Napas saya adalah konservasi.”