Di balik nada candaan tersebut, tersimpan kenyataan bahwa penolakan itu sempat meninggalkan kesedihan mendalam.

“Ibu Nur itu benar-benar sedih ketika tidak bisa menjadi dosen. Jadi Pak Subakat juga sangat suka pendidikan, jadi mereka berdua merasakan pendidikan lah yang membawa mereka kembali ke jalur karier seperti sekarang,” paparnya.

Meski gagal berkarier sebagai akademisi, kata Salman, kecintaan kedua orang tuanya terhadap dunia pendidikan tak pernah padam. Justru dari sanalah arah hidup mereka berubah.

Dikatakan Salman, pada tahun 1985, sang Ibu pun memutuskan memulai usaha rumahan sembari merawat anak-anaknya.

Keputusan itu menjadi cikal bakal berdirinya Paragon, perusahaan yang kini menaungi berbagai merek kosmetik nasional dan telah berkembang menjadi salah satu pemain terbesar di industri kecantikan Tanah Air.

Menariknya, kata Salman, pilihan Nurhayati untuk menempuh studi farmasi pun tidak lepas dari pengaruh seorang guru.

“Ibu Nur kok pilih farmasi kenapa? Pasti karena guru. Jadi oh iya ya saya pilih farmasi itu karena guru kimia saya,” tuturnya.

Bagi Salman, kisah ini menegaskan bahwa perjalanan hidup sering kali tidak berjalan lurus. Penolakan yang terasa pahit bisa menjadi pintu menuju kontribusi yang lebih besar.

“Sepertinya memang jalan hidup itu membawa kita berkontribusi di pendidikan di cara yang lain,” pungkasnya.

Baca Juga: Salman Subakat Berbicara Tantangan Profesi Guru