CEO Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI), Salman Subakat, membagikan kisah penuh makna tentang perjalanan hidup sang ibunda, Nurhayati Subakat. Sebuah cerita yang bermula dari penolakan, namun berujung pada lahirnya salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia.
Dalam sebuah kesempatan, Salman mengajak audiens menengok kembali awal mula berdirinya Paragon Technology and Innovation, perusahaan di balik merek Wardah.
“Kalau kita sekarang di Wardah, Paragon gitu ya, itu awalnya dari apa, kira-kira tebak. Awalnya itu 41 tahun yang lalu, dan rumah besar ITB ini jadi bagian penting,” beber Salman, di Bandung, beberapa waktu lalu.
Dikatakan Salman, kisah itu membawa kembali ke tahun 1985. Saat itu, Nurhayati Subakat yang merupakan lulusan terbaik Farmasi ITB memiliki cita-cita sederhana, yakni menjadi dosen di almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB)
Namun, rencana tak selalu berjalan sesuai harapan. Lamaran Nurhayati untuk menjadi dosen ditolak.
“Ibu Nurhayati sebetulnya ingin jadi dosen, itu cerita umum. Dia adalah lulusan terbaik di Farmasi ITB. Tapi kayaknya ITB itu visioner, ditolak. Kayaknya ITB tahu nih kalau Ibu Nur diterima nanti nggak jadi Paragon gitu ya,” kata Salman berseloroh.
Ia melanjutkan, penolakan itu bukan hanya dialami Nurhayati. Sang Ayah, Subakat, yang juga merupakan lulusan terbaik Program Studi Kimia ITB, mengalami hal serupa saat melamar menjadi dosen.
“Terus Pak Subakat, mahasiswa terbaik juga di Kimia. Ngelamar jadi dosen, ditolak juga,” ungkapnya.
Baca Juga: Cara Pandang Salman Subakat Soal Profesi Guru
Di balik nada candaan tersebut, tersimpan kenyataan bahwa penolakan itu sempat meninggalkan kesedihan mendalam.
“Ibu Nur itu benar-benar sedih ketika tidak bisa menjadi dosen. Jadi Pak Subakat juga sangat suka pendidikan, jadi mereka berdua merasakan pendidikan lah yang membawa mereka kembali ke jalur karier seperti sekarang,” paparnya.
Meski gagal berkarier sebagai akademisi, kata Salman, kecintaan kedua orang tuanya terhadap dunia pendidikan tak pernah padam. Justru dari sanalah arah hidup mereka berubah.
Dikatakan Salman, pada tahun 1985, sang Ibu pun memutuskan memulai usaha rumahan sembari merawat anak-anaknya.
Keputusan itu menjadi cikal bakal berdirinya Paragon, perusahaan yang kini menaungi berbagai merek kosmetik nasional dan telah berkembang menjadi salah satu pemain terbesar di industri kecantikan Tanah Air.
Menariknya, kata Salman, pilihan Nurhayati untuk menempuh studi farmasi pun tidak lepas dari pengaruh seorang guru.
“Ibu Nur kok pilih farmasi kenapa? Pasti karena guru. Jadi oh iya ya saya pilih farmasi itu karena guru kimia saya,” tuturnya.
Bagi Salman, kisah ini menegaskan bahwa perjalanan hidup sering kali tidak berjalan lurus. Penolakan yang terasa pahit bisa menjadi pintu menuju kontribusi yang lebih besar.
“Sepertinya memang jalan hidup itu membawa kita berkontribusi di pendidikan di cara yang lain,” pungkasnya.