Jerawat sering kali dikaitkan dengan perubahan hormon, terutama saat pubertas, menjelang menstruasi, atau selama kehamilan. Namun, tahukah kamu bahwa stres juga bisa menjadi penyebab munculnya jerawat?

Meski sama-sama dipengaruhi oleh perubahan hormon dalam tubuh, jerawat akibat stres dan jerawat hormonal memiliki penyebab, lokasi kemunculan, hingga cara penanganan yang berbeda. Mengenali perbedaannya penting agar perawatan yang dilakukan lebih tepat sasaran.

Apa Itu Jerawat Stres?

Dokter kulit Donna Hart, MD, menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami stres, tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon kortisol. Kondisi ini merangsang kelenjar minyak menghasilkan sebum berlebih yang akhirnya menyumbat pori-pori dan memicu timbulnya jerawat.

"Pada saat stres, hormon stres meningkat dan memicu kelenjar minyak memproduksi lebih banyak minyak, yang kemudian memicu munculnya jerawat," ujar Hart, dikutip dari Byrdie pada Kamis (09/07/2026). 

Baca Juga: Kenapa Jerawat Bisa Muncul di Telinga? Ternyata Ini Penyebabnya!

Menurutnya, salah satu cara paling mudah membedakan jerawat stres dan jerawat hormonal adalah dengan memperhatikan kapan jerawat muncul.

"Cara utama untuk mengetahui perbedaannya adalah dengan melacak pemicu jerawat, misalnya setelah masa stres dibandingkan dengan kemunculannya yang mengikuti siklus menstruasi setiap bulan," jelasnya.

Ciri-Ciri Jerawat Hormonal

Jerawat hormonal umumnya muncul akibat fluktuasi hormon yang dipicu oleh menstruasi, kehamilan, menopause, atau kondisi seperti polycystic ovary syndrome (PCOS).

Ahli kecantikan sekaligus pendiri Peach & Lily, Alicia Yoon, menjelaskan bahwa stres sebenarnya juga memicu respons hormonal. Namun, istilah "jerawat hormonal" lebih sering digunakan untuk jerawat yang berkaitan dengan perubahan hormon alami dalam tubuh.

Baca Juga: Bolehkah Atasi Jerawat dengan Pasta Gigi?

"Stres dapat memicu respons hormonal yang meningkatkan produksi minyak sehingga menyebabkan jerawat. Namun, jerawat hormonal umumnya mengacu pada perubahan hormon akibat menstruasi, kehamilan, menopause, PCOS, atau pola hormonal tertentu," kata Yoon.

Jerawat hormonal biasanya muncul secara berulang di area yang sama, terutama di sekitar dagu dan garis rahang. Kondisi ini juga cenderung berlangsung lebih lama dibandingkan jenis jerawat lainnya.

Lokasi Munculnya Bisa Berbeda

Selain itu, lokasi kemunculan jerawat juga dapat menjadi petunjuk penyebabnya.

Dokter kulit Lian Mack, MD, mengatakan jerawat yang dipicu stres umumnya muncul di area wajah yang paling berminyak, seperti dahi, hidung, dan dagu atau dikenal sebagai T-zone.

Baca Juga: Lawan Jerawat Secara Alami, Ini 6 Cara Tepat Manfaatkan Gel Aloe Vera

Menurutnya, peningkatan hormon kortisol saat stres menyebabkan produksi minyak berlebih sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat.

Sementara itu, dokter kulit Michele Green, MD, menjelaskan jerawat hormonal lebih sering muncul di sekitar rahang dan dagu.

"Jerawat hormonal biasanya muncul di tempat yang sama berulang kali dan menjadi kronis karena minyak telah menumpuk selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu," ujar Green.

Selain itu, jerawat akibat stres sering kali disertai kulit kemerahan dan rasa gatal.

Mengapa Stres Bisa Memicu Jerawat?

Sebuah penelitian berjudul Emerging Issues in Adult Female Acne yang diterbitkan dalam The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology menunjukkan bahwa stres menjadi salah satu pemicu utama jerawat pada perempuan dewasa.

Saat berada di bawah tekanan, tubuh memproduksi lebih banyak kortisol. Hormon ini meningkatkan produksi sebum atau minyak alami kulit sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat dan memicu peradangan.

Menurut Green, jerawat stres dapat dialami siapa saja, baik remaja maupun orang dewasa.

"Pada orang dewasa, pemicunya sering kali berasal dari tekanan pekerjaan atau kehidupan sehari-hari. Sementara pada remaja, stres biasanya berkaitan dengan aktivitas belajar dan tuntutan akademik," jelasnya.

Cara Mengatasi Jerawat Stres

Untuk jerawat ringan, dokter menyarankan penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung asam salisilat atau retinoid untuk membantu mengurangi produksi minyak sekaligus mempercepat regenerasi sel kulit.

Baca Juga: Ini Dampak Stres Kronis pada Memori dan Emosi Menurut Ahli Biologi Molekuler

Namun, jika jerawat berukuran besar, terasa nyeri, meradang, atau muncul di bawah permukaan kulit, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kulit agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

Selain perawatan dari luar, mengelola stres juga menjadi langkah penting untuk mencegah jerawat datang kembali.

Yoon menyarankan beberapa cara sederhana untuk membantu menenangkan pikiran, seperti meditasi, berjalan kaki, melakukan self-talk positif, atau berbincang dengan orang yang dipercaya.

"Di luar penggunaan produk, pendekatan terbaik adalah mengurangi stres. Meditasi, berjalan-jalan, berbicara dengan teman, atau mencari akar penyebab stres dapat membantu memperbaiki kondisi kulit," tutupnya.