Kereta Api Indonesia (Persero) terus meningkatkan kapasitas layanan KRL di lintas Bogor (Bogor Line) seiring terus bertambahnya jumlah pengguna transportasi publik di Jabodetabek. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan operasional rangkaian KRL dengan formasi 12 kereta atau SF12 guna mengurangi kepadatan penumpang, terutama pada jam sibuk.

Untuk mendukung pengoperasian rangkaian yang lebih panjang tersebut, KAI saat ini tengah menyelesaikan pengembangan peron di jalur 6, 7, dan 8 Stasiun Bogor. Proyek yang dimulai sejak 15 April 2026 itu ditargetkan rampung pada 15 Juli 2026.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengoperasian KRL 12 gerbong merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan kapasitas angkut dalam setiap perjalanan sehingga pelanggan dapat menikmati layanan yang lebih nyaman.

Baca Juga: 78 Juta Orang Naik KRL Bogor, Jadi Jalur Paling Sibuk

"Kesiapan SF12 menjadi bagian dari upaya memperbesar kapasitas dalam satu perjalanan. Bagi pelanggan, manfaatnya dapat dirasakan melalui ruang layanan yang lebih memadai, alur naik-turun yang lebih tertata, dan kesiapan perjalanan yang semakin baik, terutama pada jam sibuk," ujar Anne dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).

Menurut Anne, peningkatan kapasitas tersebut menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda mengingat Bogor Line merupakan salah satu lintas KRL dengan tingkat mobilitas tertinggi di Jabodetabek. Pada semester pertama 2026 saja, jalur tersebut telah melayani sekitar 78,08 juta pelanggan.

Baca Juga: Peron Baru Stasiun Bogor Segera Beroperasi

Selain memperpanjang peron, proyek pengembangan juga mencakup pembangunan struktur dan arsitektur peron, pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP), penyesuaian jalur rel, hingga penyesuaian listrik aliran atas (LAA). KAI juga menambah kanopi di area peron untuk meningkatkan kenyamanan penumpang saat menunggu kereta.

Sebelum dioperasikan secara penuh, KAI telah melakukan serangkaian pengujian guna memastikan kesiapan infrastruktur. Uji beban menggunakan lokomotif dilakukan pada 29 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan uji operasional rangkaian KRL pada 1 Juli 2026.

Langkah tersebut dilakukan agar seluruh fasilitas pendukung dapat berfungsi optimal ketika layanan KRL 12 gerbong mulai beroperasi.

Tak hanya meningkatkan kapasitas di Stasiun Bogor, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan juga terus mempersiapkan integrasi antara Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang. Integrasi ini diharapkan mempermudah perpindahan penumpang menuju layanan KA Pangrango maupun moda transportasi lanjutan di kawasan Bogor.

Menurut Anne, pengembangan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari komitmen KAI untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang semakin aman, nyaman, dan terintegrasi sesuai kebutuhan masyarakat.

"KAI ingin memastikan peningkatan layanan dilakukan sesuai kebutuhan pelanggan. Bogor Line melayani jutaan perjalanan masyarakat setiap tahun, sehingga kesiapan kapasitas, keselamatan, dan konektivitas menjadi perhatian utama dalam pengembangan layanan," katanya.

KAI berharap kehadiran rangkaian KRL 12 gerbong dapat membantu mengurangi kepadatan penumpang, memperlancar proses naik dan turun kereta, serta meningkatkan kenyamanan perjalanan, khususnya bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama menuju tempat kerja maupun pusat aktivitas di Jakarta dan sekitarnya.

Peningkatan kapasitas ini juga menjadi bagian dari upaya KAI mendorong lebih banyak masyarakat beralih ke transportasi publik yang efisien, sekaligus mendukung mobilitas perkotaan yang lebih lancar di kawasan Jabodetabek.