Pemerintah menargetkan revitalisasi Stasiun Gambir selesai pada 2028. Setelah proyek tersebut rampung, Stasiun Gambir akan melayani penumpang kereta jarak jauh sekaligus Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan revitalisasi dilakukan untuk memperkuat konektivitas antarmoda transportasi di Jakarta. Menurutnya, Stasiun Gambir akan menjadi stasiun nasional yang terhubung dengan berbagai layanan transportasi publik.
Baca Juga: Dari Commuter Line hingga Nobar, Coca-Cola Indonesia Hidupkan Semangat FIFA World Cup 2026
“Di situ nanti bisa terkoneksi dengan beberapa stasiun dan moda transportasi. Penumpang kereta bisa terhubung ke LRT, bahkan sampai ke Kereta Cepat Whoosh melalui Stasiun Cawang, kemudian juga bisa menuju bandara,” kata Dudy dikutip Olenka pada Selasa (23/06/2026).
Dudy menjelaskan, kehadiran layanan KRL di Stasiun Gambir tidak akan menghapus layanan kereta jarak jauh yang selama ini beroperasi. Kedua layanan tersebut akan tetap berjalan secara bersamaan dalam satu kawasan stasiun.
Ia juga menepis kekhawatiran bahwa penggabungan layanan KRL dan kereta jarak jauh akan menyebabkan kepadatan berlebih di Stasiun Gambir. Menurutnya, kapasitas lahan yang tersedia masih mencukupi dan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional, termasuk penambahan jalur untuk KRL.
Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Jika Barang Ketinggalan di KRL
“Yang pasti nanti ada layanan Commuter dan ada kereta jarak jauh yang kita satukan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dudy menegaskan revitalisasi Gambir tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral. Stasiun Gambir akan mengusung konsep sebagai stasiun nasional sekaligus wajah perkeretaapian Indonesia.
“Bukan menggantikan Manggarai. Gambir akan menjadi stasiun nasional, seperti wajahnya perkeretaapian Indonesia,” katanya.
Menurut Dudy, proyek revitalisasi tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Saat ini PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih mematangkan perencanaan proyek dengan target penyelesaian pada 2028.
Baca Juga: Ramai-ramai Protes Wacana Subsidi KRL Berbasis NIK
Pendanaan revitalisasi tidak berasal dari anggaran Kementerian Perhubungan, melainkan dari PT KAI. Skema tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk memperjelas pemisahan fungsi regulator dan operator melalui pengalihan pengelolaan aset stasiun kepada KAI.
“Ke depan aset akan dikelola dan diserahkan kepada KAI. Aturannya sedang kami godok agar pemisahan antara regulator dan operator menjadi lebih jelas,” kata Dudy.