Selain membuat jantung sedikit lebih cepat berdetak, kata dokter Tirta, aktivasi saraf simpatis juga dapat memunculkan berbagai respons lain seperti tangan terasa dingin, tubuh lebih waspada, hingga meningkatnya fokus.
"Jadi lebih fokus. Nah, itu aktivitas namanya fight and flight response system. Cuma kalau minumnya masih dalam batas normal, tidak apa-apa," lanjut dr. Tirta.
Meski demikian, dokter Tirta mengingatkan bahwa kondisi ini bisa berbeda bagi orang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau gangguan irama jantung (aritmia).
Pada kelompok tersebut, kata dia, konsumsi kopi berlebihan berpotensi memicu gangguan yang lebih serius.
"Tapi akan lain cerita kalau kalian tekanan darahnya tinggi. Contoh, ada orang yang memiliki kelainan jantung khususnya aritmia atau kelainan irama jantung. Nah itu kalau minum kopi terlalu sering, nanti irama jantungnya bisa terganggu," jelasnya.
Apabila setelah minum kopi muncul gejala seperti sesak napas atau gangguan irama jantung yang mengganggu aktivitas, dokter Tirta menyarankan untuk mengurangi konsumsi kopi dan segera berkonsultasi dengan dokter.
"Kalau sudah menimbulkan gejala kayak sesak napas, ya dihindari. Buat kalian yang ada kelainan jantung, terutama di irama jantung, bisa langsung konsultasi dengan dokter spesialis jantung sub-aritmia," sarannya.
Namun, bagi masyarakat yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung maupun gangguan irama jantung, menikmati kopi dalam jumlah wajar umumnya tidak menjadi masalah.
Menariknya, di akhir penjelasannya, dokter Tirta juga menyampaikan sisi lain yang membuat kopi begitu digemari banyak orang.
"Tapi, ada juga efek samping kopi yang lain. Apa coba? Membuat kita lebih menikmati hidup," pungkasnya.
Baca Juga: Nyeri Pinggang Belum Tentu Ginjal, Dokter Tirta Jelaskan Berbagai Penyebab Lower Back Pain