Emiten maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan rugi bersih sebesar US$41,62 juta atau setara dengan Rp718,53 miliar (dengan kurs 17.264) pada kuartal I-2026. Nilai rugi tersebut menyusut 45,19% apabila dibandingkan dengan kerugian sebesar US$75,93 juta pada periode yang sama tahun 2025 lalu.

Penurunan rugi Garuda Indonesia ditopang oleh kenaikan pendapatan usaha sebesar 5,36% dari US$723,56 juta pada kuartal I-2025 menjadi US$762,35 juta pada tiga bulan pertama tahun ini.

Baca Juga: Kisah Ignasius Jonan Ditawari Pimpin Maskapai Garuda Indonesia

Kontributor utama pendapatan perseroan berasal dari penerbangan berjadwal yang menyumbang US$648,10 juta. Selain itu, penerbangan tidak berjadwal memberikan kontribusi sebesar US$24,98 juta. Sumber pendapatan lainnya tercatat sebesar US$89,27 juta.

Manajemen GIAA juga berhasil menekan beban usaha menjadi US$713,22 juta dari sebelumnya US$718,36 juta. Penurunan ini didorong oleh efisiensi pada beberapa pos biaya. Beban operasional penerbangan tercatat sebesar US$350,24 juta. Sementara itu, beban pemeliharaan dan perbaikan mencapai US$159,14 juta.

Faktor lain yang menopang perbaikan kinerja keuangan ini adalah penurunan beban keuangan. Pos ini berkurang menjadi US$104 juta dari sebelumnya US$124,57 juta pada periode yang sama tahun 2025 lalu.

Dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia mencapai US$7,5 miliar per 31 Maret 2026. Jumlah ini meningkat tipis 1,01% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang sebesar US$7,43 miliar.

Total liabilitas perseroan tercatat sebesar US$7,43 miliar. Adapun total ekuitas GIAA berada di angka US$68,25 juta, turun dari posisi akhir tahun 2025 yang sebesar US$91,91 juta.