Di era ketika pesan bisa sampai dalam hitungan detik, sebagian anak muda justru memilih cara komunikasi yang serba lambat. Bukan karena jaringan bermasalah, melainkan karena mereka memang ingin merasakan sensasi menunggu.
Fenomena tersebut terlihat dari munculnya aplikasi komunikasi, seperti Carrier Pidge dan Roost. Keduanya menawarkan pengalaman berkirim pesan yang dibuat menyerupai sistem merpati pos, lengkap dengan waktu tunggu sebelum pesan benar-benar sampai ke penerima.
Tren ini menjadi menarik karena hadir di tengah dominasi aplikasi pesan instan yang selama ini membuat komunikasi terasa semakin cepat. Di Amerika Serikat ada iMessage, sementara WhatsApp menjadi salah satu aplikasi yang banyak digunakan di berbagai negara.
Baca Juga: Gen Z Dinilai Lebih Santai Hadapi Kegagalan, Guru Besar SBM ITB Ungkap Alasannya
Dikutip dari Yahoo Tech pada Kamis (17/09/2026), konsep yang ditawarkan aplikasi tersebut justru mengembalikan satu hal yang hampir hilang dari komunikasi digital adalah menunggu.
Ketika pengguna menekan tombol kirim, pesan tidak langsung muncul di ponsel penerima. Sebuah animasi burung merpati virtual akan membawa pesan tersebut menuju lokasi penerima dengan kecepatan rata-rata sekitar 177 kilometer per jam.
Untuk pesan yang dikirim dalam jarak dekat, waktu tunggunya mungkin hanya beberapa detik. Namun, jika penerima berada di benua lain, pesan bisa membutuhkan waktu hingga berjam-jam untuk tiba.
Yang membuatnya semakin tidak biasa, terdapat kemungkinan sekitar 0,2 persen burung virtual tersebut tersesat. Jika itu terjadi, pesan dianggap gagal dikirim.
Aplikasi tersebut dikembangkan Noah Iarrobino hanya dalam waktu sekitar tiga minggu. Bahkan, sang pengembang secara terang-terangan menggambarkan aplikasinya sebagai sesuatu yang "tidak berguna" dan "benar-benar tidak praktis".
Namun, justru ketidakpraktisan itulah yang menjadi daya tariknya.
Baca Juga: 6 dari 10 Gen Z dan Milenial Kini Pilih Sewa Hunian Fleksibel, Ini Alasannya!
Alih-alih sekadar melihat notifikasi yang muncul lalu dilupakan, pengguna dibuat menunggu kedatangan pesan. Ada proses yang bisa diikuti sebelum sebuah pesan akhirnya sampai ke tujuan.
Pengguna bahkan dapat melihat peta interaktif yang memperlihatkan perjalanan merpati virtual tersebut. Dari sini, aktivitas mengirim pesan berubah menjadi pengalaman tersendiri.
Hal itu berbeda dengan aplikasi pesan instan pada umumnya. Begitu pesan dikirim, percakapan biasanya langsung berlanjut. Tidak ada jeda yang memaksa pengirim maupun penerima untuk menunggu.
Konsep semacam ini ternyata tidak hanya menarik perhatian segelintir pengguna. Aplikasi serupa, Roost, dilaporkan berhasil mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna hanya dalam hitungan minggu setelah diluncurkan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ada pengguna yang justru tertarik ketika komunikasi digital tidak dibuat secepat mungkin.
Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan cara orang memandang komunikasi di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi. Kecepatan memang menjadi salah satu keunggulan utama teknologi, tetapi kemudahan tersebut terkadang membawa konsekuensi lain.
Pesan yang masuk secara instan dapat menciptakan ekspektasi bahwa seseorang juga harus memberikan respons dengan cepat. Dari sinilah muncul tekanan untuk terus memeriksa ponsel dan membalas pesan, bahkan ketika sebenarnya tidak sedang ingin berkomunikasi.
Aplikasi yang sengaja memperlambat proses pengiriman menawarkan pengalaman yang berbeda. Pengirim memiliki waktu untuk memikirkan pesan yang ingin disampaikan, sedangkan penerima tidak dihadapkan pada kesan bahwa respons harus diberikan saat itu juga.
Pada akhirnya, tren ini bukan semata-mata soal menggunakan aplikasi yang terasa "jadul". Ada pengalaman yang ditawarkan di balik sistem tersebut, yakni memberikan kembali jeda dalam komunikasi digital.
Di tengah dunia yang terbiasa dengan segala sesuatu serba instan, mungkin justru proses menunggu yang membuat sebuah pesan terasa lebih berarti.