Growthmates, dulu banyak orang bilang masa muda adalah fase paling menyenangkan dalam hidup. Energi masih penuh, kesempatan terbuka lebar, dan masa depan terasa menjanjikan. Tapi, bagaimana jika kenyataannya justru sebaliknya?

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa orang dewasa muda kini menjadi kelompok yang paling tidak bahagia. Temuan ini sekaligus mematahkan pola lama yang selama ini dikenal sebagai kurva kebahagiaan berbentuk huruf U.

Baca Juga: Gengsi Adalah Penghambat Kekayaan Nomor Satu Bagi Generasi Perintis

Selama bertahun-tahun, para peneliti meyakini bahwa tingkat kebahagiaan seseorang cenderung tinggi saat masih muda, menurun ketika memasuki usia paruh baya, lalu kembali meningkat di usia lanjut. Namun, menurut laporan YourTango (6/7/2026), pola tersebut kini mulai bergeser, terutama setelah Generasi Z memasuki usia dewasa.

Alih-alih menikmati masa muda sebagai fase paling membahagiakan, banyak orang berusia di bawah 45 tahun justru mengalami penurunan tingkat kebahagiaan. Penurunan ini terlihat semakin jelas pada periode 2019 hingga 2024. Bahkan, sebagian responden digambarkan berada dalam kondisi state of despair atau rasa putus asa.

Baca Juga: Anak Generasi Alpha Disebut Lebih Sensitif dari Gen Z, Ini Alasannya Menurut Psikolog

Lantas, apa penyebabnya?

Hingga kini, para peneliti belum menemukan satu jawaban pasti. Yang menarik, tren penurunan kesehatan mental ini ternyata sudah mulai terlihat bahkan sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Artinya, ada perubahan yang lebih besar dalam kehidupan generasi muda yang masih terus dipelajari.

Dalam laporannya, jurnalis The New York Times Well, Christina Caron, menjelaskan bahwa anak muda saat ini tidak hanya merasa kurang bahagia. Banyak dari mereka juga merasa hubungan sosial yang dimiliki tidak sekuat dulu, kesulitan menemukan tujuan hidup, hingga merasa hidupnya tidak berkembang ke arah yang diharapkan.

Baca Juga: Apa Itu Generasi Zillennial? Generasi yang Tumbuh di Antara Millennial dan Gen Z

Para peneliti menyebut kondisi berkembang secara optimal sebagai flourishing, yaitu ketika seseorang merasa hidupnya berjalan baik, memiliki relasi yang sehat, serta menemukan makna dalam kesehariannya. Sayangnya, semakin banyak orang muda yang merasa belum mencapai kondisi tersebut.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bukan hanya soal usia. Dukungan sosial, kesehatan mental, rasa memiliki tujuan hidup, hingga lingkungan tempat seseorang bertumbuh juga berperan besar dalam menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya.