Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai tradisi ziarah di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan bagian dari warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, praktik tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari keberagaman tradisi selama tidak menimbulkan dampak negatif.

Pernyataan itu disampaikan Fadli merespons ramainya perbincangan di media sosial yang mengaitkan aktivitas ziarah di Gunung Kawi dengan praktik pesugihan.

Baca Juga: Kisah Bos Rokok yang Rajin ke Gunung Kawi hingga Bangun Kerajaan Bisnis

"Gunung Kawi ya, itu kan keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat. Itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama," kata Fadli dikutip Rabu (08/07/2026). 

Ia menambahkan, sebuah tradisi dapat terus dihargai selama memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk mendorong perekonomian lokal, serta tidak merusak lingkungan maupun mengganggu kehidupan sosial.

"Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu dan tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita," ujarnya.

Belakangan, aktivitas ziarah di Gunung Kawi menjadi sorotan publik setelah beredar sejumlah konten di media sosial yang menghubungkannya dengan praktik mencari kekayaan secara instan atau pesugihan.

Baca Juga: Fadli Zon: Dongeng Penting untuk Membangun Karakter Generasi Masa Depan

Padahal, Pesarean Gunung Kawi merupakan kompleks makam tokoh yang dihormati masyarakat, yakni Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Kiai Zakaria II yang dikenal sebagai Eyang Djoego, serta Raden Mas Iman Soedjono.

Kompleks makam tersebut rutin dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, terutama pada momen Tahun Baru Islam. Setiap 1 Muharam atau 1 Suro, kawasan Pesarean Gunung Kawi menggelar rangkaian tradisi seperti kirab budaya dan tabur bunga yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.