Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa tradisi lisan dan dongeng merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Menurutnya, kebudayaan tidak hanya berbicara soal seni, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan yang membentuk identitas bangsa.

"Kebudayaan sering kali disalahpahami hanya sebagai kesenian. Padahal ada banyak objek pemajuan kebudayaan, mulai dari bahasa, tradisi lisan, sastra, adat istiadat, ritus, manuskrip, pengetahuan tradisional, hingga seni dalam berbagai bentuk ekspresinya," tutur Fadli Zon, saat acara Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, di Graha Utama, Kompleks Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Politisi Partai Gerindra itu memaparkan bahwa tradisi lisan merupakan salah satu warisan budaya yang sangat kaya di Indonesia.Dari Sabang hingga Merauke, kata dia, masyarakat Indonesia mewarisi beragam cerita rakyat yang dituturkan turun-temurun oleh para leluhur. Sayangnya, sebagian besar cerita tersebut belum terdokumentasi secara memadai.

"Tradisi lisan adalah salah satu kekayaan budaya kita. Cerita-cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun merupakan bagian dari warisan budaya yang kadang kurang tersentuh. Karena itu, kita harus bersama-sama menghidupkannya kembali," katanya.

Fadli Zon pun mengajak para pendongeng, storyteller, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun sebuah gerakan nasional yang berfokus pada pelestarian cerita rakyat Indonesia. Menurutnya, kegiatan yang digelar saat ini baru merupakan langkah awal dari upaya yang lebih besar.

"Kita ingin ini menjadi sebuah gerakan. Setelah ini harus ada Gerakan Cerita Rakyat Indonesia agar kita bisa menghidupkan kembali tradisi storytelling yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kita," ujarnya.

Lebih jauh,Fadli Zon mengungkapkan bahwa dongeng memiliki manfaat yang jauh melampaui hiburan.

Berdasarkan berbagai kajian yang ia pelajari, aktivitas bercerita mampu merangsang berbagai fungsi otak sekaligus, meningkatkan empati, memperkuat fokus, dan membuat informasi lebih mudah diingat.

"Bercerita secara aktif merangsang otak dengan melibatkan beberapa daya sekaligus. Storytelling mendorong otak melepaskan hormon seperti oksitosin dan dopamin yang membangun empati, meningkatkan fokus, dan membuat informasi jauh lebih mudah diingat," jelasnya.

Menurut Fadli, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui pemenuhan gizi fisik. Anak-anak juga membutuhkan ‘asupan nonfisik’ berupa cerita yang mengandung nilai, keteladanan, dan pembelajaran hidup.

"Makanan bergizi itu penting, tetapi ada juga makanan spiritual berupa cerita dari orang tua kepada anak-anaknya. Di dalam cerita terdapat nilai-nilai, keteladanan, dan nasihat yang dapat membentuk karakter generasi masa depan," katanya.

Baca Juga: Ribuan Peserta Ramaikan Gala Cerita Rakyat 2026, Kemenbud Siapkan Gerakan Indonesia Bercerita