Beberapa waktu lalu, masyarakat Tanah Air dihebohkan dengan kehadiran gantungan boneka Labubu. Labubu Doll’s seketika menjadi trendsetter setelah ‘diviralkan’ oleh member BLACKPINK, Lisa, yang kedapatan memakai gantungan boneka yang diciptakan seniman asal Hong Kong, Kasing Lung.

Terutama di Indonesia, masyarakat begitu menggebu-gebu membeli gantungan boneka tersebut setelah viral. Bahkan, banyak di antara mereka yang rela mengantre panjang demi memilikinya. Bukan hanya itu, harga gantungan boneka Labubu pun seketika meningkat secara signifikan, bahkan menyentuh angka jutaan per pieces-nya. 

Kehadiran gantungan boneka Labubu yang menarik konsumen di Tanah Air ini, menjadi salah satu contoh dari fenomena lipstick effect. Kalau bisa dibilang, itu barang ‘receh’, namun entah mengapa masyarakat rela merogoh kocek dalam demi bisa memilikinya. Entah hanya FOMO semata, atau benar-benar membutuhkannya?

Contoh lainnya adalah fenomena konser musik di Tanah Air yang begitu laris manis. Hampir setiap minggu atau bahkan bulannya, konser musik tampak tak pernah absen menambah agenda hiburan. Bukan hanya para penyanyi lokal, konser-konser musik di Tanah Air juga sering diisi oleh bintang dunia. 

Baca Juga: Heboh Larangan Jual-Beli iPhone 16 di Indonesia, Apa Penyebab Sebenarnya?

Sebut saja seperti Bruno Mars, Taylor Swift, hingga deretan idol K-Pop yang menyita perhatian masyarakat. Mulai dari mereka yang mengidolakan hingga hanya sekadar ‘ikut-ikutan’ rela merogoh kocek dalam membeli tiket yang harganya juga tak murah. 

Belum lagi, kehadiran iPhone 16 yang tampaknya sudah begitu ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat Tanah Air. Meski masih dilarang peredarannya di dalam negeri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap, sudah ada sekira 9.000 unit iPhone 16 yang sudah masuk ke Indonesia. 

Lipstick effect menjadi salah satu fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan kondisi perekonomian yang lesu. Berikut Olenka rangkum dari berbagai sumber, Selasa (29/10/2024), sejumlah informasi terkait mengenai fenomena lipstick effect.

Apa Itu Lipstick Effect?

Mengutip dari laman Forbes, lipstick effect pertama kali diperkenalkan oleh profesor ekonomi dan sosiologi, Juliet Schor, pada bukunya yang berjudul The Overspent American pada 1998. Di mana, lipstick effect merupakan sebuah teori yang menggambarkan penurunan ekonomi yang ditandai dengan naiknya demand terhadap produk-produk kecantikan yang murah, seperti lipstik.

Kemudian, mantan CEO Estée Lauder, Leonard Lauder, memberikan bukti anekdot mengenai lipstick effect dengan melaporkan perusahaannya mengalami lonjakan penjualan lipstik setelah serangan teroris 9/11 pada 2001. Lauder menegaskan pesan tersebut setelah resesi pada 2008 dengan kembali melaporkan kenaikan penjualan lipstik yang dilakukan perusahaannya.

Secara garis besar, lipstick effect ini terjadi ketika di tengah kondisi ekonomi yang lesu dan keuangan terbatas seperti resesi, masyarakat justru cenderung membeli barang-barang mewah yang harganya murah. 

Bukan hanya sekadar lipstik atau alat kosmetik lainnya saja, melainkan ‘perintilan-perintilan’ lainnya seperti boneka Labubu, kerap menjadi incaran masyarakat dan dibeli meski kondisi keuangan mereka terbatas.

Bisa dikatakan, lipstick effect ini menjadi cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski banyak masyarakat mengurangi pengeluaran untuk membeli barang-barang mewah dengan harga fantastis, mereka tetap mencari jalan lain untuk bisa membahagiakan diri sendiri dengan membeli barang-barang mewah yang cenderung murah. 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lipstick Effect

Mungkin terkesan sangat berlawanan dengan intuisi bagi konsumen untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk barang-barang mewah kecil, ini bukanlah perilaku baru. 

Saat ekonomi lesu, kita sering merasa tidak memiliki kendali atas situasi dan khawatir tentang pekerjaan, misalnya kemungkinan PHK. Kecemasan ini bisa sangat mengganggu, sehingga berbelanja barang yang dapat memberikan efek bahagia menjadi bentuk pelarian untuk merasa lebih memegang kendali. 

Oleh karena itu, lipstick effect ini tidak hanya terbatas pada pembelian barang-barang mewah yang lebih terjangkau, tetapi juga berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. Berikut ini sejumlah faktor yang ikut mempengaruhi efek lipstik , seperti dikutip dari laman MailChimp.

1. Faktor Ekonomi

Kondisi ekonomi memainkan peran utama dalam perilaku konsumen, dengan efek lipstik menjadi lebih jelas selama resesi atau periode penurunan ekonomi. Sementara konsumen dapat mengurangi pengeluaran yang signifikan dan barang-barang mahal seperti kendaraan atau liburan yang tidak lagi mampu mereka beli, penjualan produk kecantikan, barang mewah yang terjangkau, dan lipstik pun justru meningkat.

Keinginan konsumen untuk memanjakan diri tidak hilang selama masa sulit; keinginan itu hanya muncul dalam bentuk yang lebih terjangkau, memberikan kenyamanan atau kesenangan selama masa yang tidak menentu. Produk seperti lipstik dapat membangkitkan semangat seseorang tanpa beban finansial.

Sebaliknya, efek lipstik kurang terasa selama pertumbuhan dan pemulihan ekonomi. Ketika konsumen memiliki keyakinan lebih besar terhadap stabilitas keuangan, mereka cenderung berinvestasi pada barang-barang mahal atau barang mewah.

Akan tetapi, bahkan selama masa ekonomi berkembang pesat, kemewahan kecil masih dapat menarik minat konsumen yang lebih sadar anggaran.

2. Faktor Emosional

Membeli barang-barang mewah yang terjangkau seperti lipstik dan produk kecantikan menjadi salah satu cara yang dapat meringankan stres dan cemas. Memanjakan diri dengan produk mewah dapat memberikan kontribusi pada kesejahteraan dan harga diri yang lebih tinggi. 

Selain itu, konsumen sering kali mengembangkan hubungan emosional dengan berbagai produk, yang semakin kuat selama tekanan emosional. Nostalgia atau perasaan baik yang terkait dengan suatu produk dapat membangkitkan perasaan positif untuk memberikan stabilitas dan kenyamanan bagi konsumen.

Baca Juga: Menyelamatkan Kelas Menengah di Tengah Mimpi Ekonomi 8% Pemerintahan Prabowo-Gibran

3. Faktor Sosial dan Budaya

Platform media sosial memperkuat efek lipstik dengan menonjolkan barang-barang mewah yang terjangkau melalui para influencer, di mana hal ini mendorong pengikut mereka  untuk mengambil tindakan alias tergiur untuk membeli barang tersebut juga.

Pada saat yang sama, tren budaya juga dapat membentuk perilaku konsumen. Perubahan dalam mode, nilai, dan standar kecantikan memengaruhi permintaan berbagai produk, terutama produk kecantikan dan perawatan diri. Misalnya, pergeseran budaya ke arah kesehatan dapat meningkatkan penjualan produk seperti vitamin, kosmetik, dan produk lainnya, yang berkontribusi pada efek lipstik.

Pembelian barang mewah yang terjangkau selama masa krisis ekonomi bahkan lebih menonjol di era digital. Dengan teknologi seperti media sosial, iklan digital, mesin pencari, dan sebagainya, perilaku konsumen beralih ke belanja online  yang mudah dan praktis. 

Bagaimana Terhindar dari Jebakan Lipstick Effect?

Walaupun membeli barang-barang mewah yang murah dapat memberikan efek kepuasan, penting untuk tetap menabung agar dapat membeli barang yang lebih besar dan memenuhi kebutuhan mendesak, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Erik Marlisa melalui saluran YouTube The Financial Lyfe, memberikan beberapa tips agar terhindar dari jebakan lipstick effect. Berikut di antaranya:

1. Jangan Terjerumus Scarcity Mindset

Walaupun mungkin saat ini kamu merasa tidak berkelimpahan secara finansial, membayangkan dirimu dalam situasi berkelimpahan bisa membantu meredakan sebagian kecemasan dan mengurangi stres. Dengan menyadari adanya scarcity mindset dalam diri, kamu bisa mengubah perilakumu dan mengurangi pembelian yang tidak perlu. 

2. Atur Budget untuk Keinginan

Jika saat ini kamu tidak memiliki dana hiburan untuk diri sendiri, ini adalah tanda untuk mulai membuat anggaran. Dengan adanya budgeting, kamu jadi lebih bijak mengelola pengeluaran untuk barang mewah kecil, setelah ketika dananya tersedia, kamu bisa membeli barang yang diinginkan tanpa merasa bersalah.

Baca Juga: Konsisten Dukung Perekonomian, Askrindo Beri Perlindungan UMKM di Bandung

3. Alasan Logis untuk Membeli

Alasan merupakan sesuatu yang penting dalam setiap pembelian produk atau jasa yang bukan kebutuhan pokok, terutama selama masa krisis ekonomi. Pikirkan alasan di balik pembelian: apakah benar-benar ingin membeli lipstik baru, atau sebenarnya ada kebutuhan lain yang lebih penting? 

“Ingatlah, meskipun kita tidak bisa mengendalikan situasi ekonomi, kita tetap bisa mengendalikan reaksi kita terhadapnya,” ujar Erik.

Tanyakan pada diri sendiri apa yang bisa dilakukan untuk merasa lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi, apakah itu dengan menabung lebih banyak atau dengan menyusun anggaran hiburan yang lebih besar. Lagipula, jika pembelian lipstik dan kosmetik lainnya memang membuatmu merasa lebih baik dan bahagia, kenapa tidak?

“Tapi kemudian, terbitlah pertanyaan apakah uang bisa membeli kebahagiaan?” tukas Erik.