Apa Itu Lipstick Effect?
Mengutip dari laman Forbes, lipstick effect pertama kali diperkenalkan oleh profesor ekonomi dan sosiologi, Juliet Schor, pada bukunya yang berjudul The Overspent American pada 1998. Di mana, lipstick effect merupakan sebuah teori yang menggambarkan penurunan ekonomi yang ditandai dengan naiknya demand terhadap produk-produk kecantikan yang murah, seperti lipstik.
Kemudian, mantan CEO Estée Lauder, Leonard Lauder, memberikan bukti anekdot mengenai lipstick effect dengan melaporkan perusahaannya mengalami lonjakan penjualan lipstik setelah serangan teroris 9/11 pada 2001. Lauder menegaskan pesan tersebut setelah resesi pada 2008 dengan kembali melaporkan kenaikan penjualan lipstik yang dilakukan perusahaannya.
Secara garis besar, lipstick effect ini terjadi ketika di tengah kondisi ekonomi yang lesu dan keuangan terbatas seperti resesi, masyarakat justru cenderung membeli barang-barang mewah yang harganya murah.
Bukan hanya sekadar lipstik atau alat kosmetik lainnya saja, melainkan ‘perintilan-perintilan’ lainnya seperti boneka Labubu, kerap menjadi incaran masyarakat dan dibeli meski kondisi keuangan mereka terbatas.
Bisa dikatakan, lipstick effect ini menjadi cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski banyak masyarakat mengurangi pengeluaran untuk membeli barang-barang mewah dengan harga fantastis, mereka tetap mencari jalan lain untuk bisa membahagiakan diri sendiri dengan membeli barang-barang mewah yang cenderung murah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lipstick Effect
Mungkin terkesan sangat berlawanan dengan intuisi bagi konsumen untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk barang-barang mewah kecil, ini bukanlah perilaku baru.
Saat ekonomi lesu, kita sering merasa tidak memiliki kendali atas situasi dan khawatir tentang pekerjaan, misalnya kemungkinan PHK. Kecemasan ini bisa sangat mengganggu, sehingga berbelanja barang yang dapat memberikan efek bahagia menjadi bentuk pelarian untuk merasa lebih memegang kendali.
Oleh karena itu, lipstick effect ini tidak hanya terbatas pada pembelian barang-barang mewah yang lebih terjangkau, tetapi juga berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. Berikut ini sejumlah faktor yang ikut mempengaruhi efek lipstik , seperti dikutip dari laman MailChimp.
1. Faktor Ekonomi
Kondisi ekonomi memainkan peran utama dalam perilaku konsumen, dengan efek lipstik menjadi lebih jelas selama resesi atau periode penurunan ekonomi. Sementara konsumen dapat mengurangi pengeluaran yang signifikan dan barang-barang mahal seperti kendaraan atau liburan yang tidak lagi mampu mereka beli, penjualan produk kecantikan, barang mewah yang terjangkau, dan lipstik pun justru meningkat.
Keinginan konsumen untuk memanjakan diri tidak hilang selama masa sulit; keinginan itu hanya muncul dalam bentuk yang lebih terjangkau, memberikan kenyamanan atau kesenangan selama masa yang tidak menentu. Produk seperti lipstik dapat membangkitkan semangat seseorang tanpa beban finansial.
Sebaliknya, efek lipstik kurang terasa selama pertumbuhan dan pemulihan ekonomi. Ketika konsumen memiliki keyakinan lebih besar terhadap stabilitas keuangan, mereka cenderung berinvestasi pada barang-barang mahal atau barang mewah.
Akan tetapi, bahkan selama masa ekonomi berkembang pesat, kemewahan kecil masih dapat menarik minat konsumen yang lebih sadar anggaran.
2. Faktor Emosional
Membeli barang-barang mewah yang terjangkau seperti lipstik dan produk kecantikan menjadi salah satu cara yang dapat meringankan stres dan cemas. Memanjakan diri dengan produk mewah dapat memberikan kontribusi pada kesejahteraan dan harga diri yang lebih tinggi.
Selain itu, konsumen sering kali mengembangkan hubungan emosional dengan berbagai produk, yang semakin kuat selama tekanan emosional. Nostalgia atau perasaan baik yang terkait dengan suatu produk dapat membangkitkan perasaan positif untuk memberikan stabilitas dan kenyamanan bagi konsumen.
Baca Juga: Menyelamatkan Kelas Menengah di Tengah Mimpi Ekonomi 8% Pemerintahan Prabowo-Gibran
3. Faktor Sosial dan Budaya
Platform media sosial memperkuat efek lipstik dengan menonjolkan barang-barang mewah yang terjangkau melalui para influencer, di mana hal ini mendorong pengikut mereka untuk mengambil tindakan alias tergiur untuk membeli barang tersebut juga.
Pada saat yang sama, tren budaya juga dapat membentuk perilaku konsumen. Perubahan dalam mode, nilai, dan standar kecantikan memengaruhi permintaan berbagai produk, terutama produk kecantikan dan perawatan diri. Misalnya, pergeseran budaya ke arah kesehatan dapat meningkatkan penjualan produk seperti vitamin, kosmetik, dan produk lainnya, yang berkontribusi pada efek lipstik.
Pembelian barang mewah yang terjangkau selama masa krisis ekonomi bahkan lebih menonjol di era digital. Dengan teknologi seperti media sosial, iklan digital, mesin pencari, dan sebagainya, perilaku konsumen beralih ke belanja online yang mudah dan praktis.