Prof. Zubairi menerangkan, penyimpanan makanan dalam lemari pendingin bertujuan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga makanan lebih awet.
Karena itu, ketika lemari pendingin tidak berfungsi, makanan yang disimpan di dalamnya berpotensi mengalami pertumbuhan kuman dan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi.
“Kalau kulkas mati, masukin makanan ke dalam kulkas tujuannya agar lebih awet, tidak terkontaminasi karena di udara dingin, kuman bakteri itu tidak bisa berkembang. Tapi kalau kulkasnya, lemari pendinginnya mati, nah itu kuman bisa timbul,” katanya.
Prof. Zubairi pun menambahkan, pada diare yang ringan, kondisi dapat membaik dengan sendirinya. Namun, apabila diare berlangsung terus-menerus dan tidak membaik setelah mengonsumsi obat, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.
“Namun kadang-kadang agak banyak kumannya, jadi tidak mempan. Kalau itu seringkali memerlukan antibiotik,” ujarnya.
Prof. Zubairi lantas menyarankan ibu tersebut tidak terus mencoba berbagai obat secara mandiri dan segera memeriksakan diri ke dokter, terutama karena diare sudah berlangsung cukup lama dan disertai keluhan lain seperti lemas.
“Jadi menurut saya, sudah waktunya Ibu ke dokter. Karena kalau diare berkepanjangan, untuk usia Ibu sekarang, itu bisa berbahaya. Jadi pesannya ke dokter berobat,” tegas Prof. Zubairi.
Selain memperhatikan kondisi tubuh ketika mengalami diare, Prof. Zubairi mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih, mengolah, dan menyimpan makanan.
Menurutnya, makanan memang merupakan sumber nutrisi penting bagi tubuh, tetapi makanan yang tidak diolah atau disimpan dengan baik justru dapat menjadi sumber masalah kesehatan.
“Makanan itu bisa sumber nutrisi, bikin badan kita kuat, kita bisa tumbuh kembang lebih baik. Namun sebaliknya kalau prosesnya atau penyimpanannya tidak baik, itu bisa membahayakan kesehatan kita,” pungkasnya.
Baca Juga: Keracunan MBG di SMA Berastagi, Dokter Ungkap Temuan Bakteri hingga Risiko Gagal Ginjal