Kelompok kedua, lanjut Santoso, adalah mayoritas karyawan yang berada di posisi ‘wait and see’, yakni sekitar 70–75 persen. Mereka cenderung menunggu dan mengamati sebelum benar-benar mendukung perubahan.

“Wait and see, lihat dulu lah untungnya buat gue apa,” ungkap Santoso.

Sementara itu, kelompok terakhir adalah mereka yang menolak perubahan. Santoso menyebut kelompok ini secara lugas bahkan dengan istilah yang lebih keras, yakni kelompok ‘teroris’.

“Sisanya itu adalah selalu ada ‘teroris’. Sorry to say, saya harus mengatakan teroris. Ngomong bagus kayak apapun, berbusa-busa mengatakan, ah jelek itu, itu dia terlalu ini, selalu ada,” ujarnya.

Berkaca dari pengalamannya, Santoso menegaskan bahwa mustahil mengubah seluruh organisasi secara sekaligus. Oleh karena itu, strategi yang ia terapkan adalah fokus memperkuat kelompok driver sebagai motor penggerak perubahan.

“Yang saya bisa harus lakukan adalah 20 persen driver, saya support mereka dan jadikan mereka menjadi pemenang dan biarlah mereka mengatakan testimoni sendiri terhadap apa yang mereka lakukan,” katanya.

Menurut Santoso, pendekatan ini terbukti efektif. Ketika kelompok driver berhasil menunjukkan hasil nyata dan mendapatkan apresiasi, kelompok ‘wait and see’ perlahan mulai ikut berubah.

“Kalau sudah itu berkali-kali, biasanya 75 persen itu mulai berubah. Oh iya ya, tidak seperti yang saya duga,” tutur Santoso.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kelompok penolak perubahan akan selalu ada dalam organisasi.

“Nah terus, yang teroris gimana? Tetap ada yang ‘ledak’ ya. Jadi itu selalu ada, nanti ada cara-cara tertentu untuk mengelola terorisnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Direktur BCA: Kunci Bisnis Bukan Kompetitor, tapi Customer