Dalam setiap organisasi, perubahan sering kali terasa seperti perjalanan panjang yang penuh dinamika. Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Santoso, menggambarkan proses ini dengan analogi sederhana namun kuat: sebuah kapal yang terus berkembang seiring waktu.

Menurutnya, perusahaan memiliki fase pertumbuhan layaknya kapal yang berubah dari kecil menjadi besar.

“Saya percaya bahwa perusahaan itu ada fasenya, saya ibaratkan ada sebuah kapal. Ada kapal kano, masa kita kapal kecil, kapal kano. Kalau kapal kano itu kan cuma dua orang maksimal tiga orang,” papar Santoso, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Sabtu (18/4/2026).

Pada fase awal, kata dia, ketika organisasi masih kecil, koordinasi berjalan sangat cepat dan sederhana.

“Jadi kalau yang kaptennya bilang ke kiri, semua ke kiri, ke kanan, semua ke kanan. Karena kalau enggak nurut, ngeguling itu kano-nya,” kata Santoso.

Namun, seiring pertumbuhan menjadi kapal feri yang besar, kompleksitas organisasi pun meningkat, dan pendekatan kepemimpinan harus ikut beradaptasi.

Dalam proses perubahan di organisasi besar, Santoso mengungkapkan bahwa selalu ada tiga kelompok utama yang muncul.

Pertama adalah kelompok pendukung perubahan atau ‘driver’, yang jumlahnya sekitar 15–20 persen.Kelompok ini tidak sekadar mengikuti arahan, tetapi juga aktif bertanya dan memahami alasan di balik keputusan.

“Driver means pemimpinnya bilang ke kiri, dia mungkin akan banyak tanya, kenapa ke kiri pak? Setelah dia dapet, oke ke kiri is the right thing dipikirnya, karena visi daripada leader-nya. Habis itu dia akan habis-habisan 20 persen itu adalah mensukseskan yang ke kiri,” jelasnya.

Baca Juga: Belajar dari Singapore Airlines, BCA Ubah Cara Melayani Nasabah

Kelompok kedua, lanjut Santoso, adalah mayoritas karyawan yang berada di posisi ‘wait and see’, yakni sekitar 70–75 persen. Mereka cenderung menunggu dan mengamati sebelum benar-benar mendukung perubahan.

“Wait and see, lihat dulu lah untungnya buat gue apa,” ungkap Santoso.

Sementara itu, kelompok terakhir adalah mereka yang menolak perubahan. Santoso menyebut kelompok ini secara lugas bahkan dengan istilah yang lebih keras, yakni kelompok ‘teroris’.

“Sisanya itu adalah selalu ada ‘teroris’. Sorry to say, saya harus mengatakan teroris. Ngomong bagus kayak apapun, berbusa-busa mengatakan, ah jelek itu, itu dia terlalu ini, selalu ada,” ujarnya.

Berkaca dari pengalamannya, Santoso menegaskan bahwa mustahil mengubah seluruh organisasi secara sekaligus. Oleh karena itu, strategi yang ia terapkan adalah fokus memperkuat kelompok driver sebagai motor penggerak perubahan.

“Yang saya bisa harus lakukan adalah 20 persen driver, saya support mereka dan jadikan mereka menjadi pemenang dan biarlah mereka mengatakan testimoni sendiri terhadap apa yang mereka lakukan,” katanya.

Menurut Santoso, pendekatan ini terbukti efektif. Ketika kelompok driver berhasil menunjukkan hasil nyata dan mendapatkan apresiasi, kelompok ‘wait and see’ perlahan mulai ikut berubah.

“Kalau sudah itu berkali-kali, biasanya 75 persen itu mulai berubah. Oh iya ya, tidak seperti yang saya duga,” tutur Santoso.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kelompok penolak perubahan akan selalu ada dalam organisasi.

“Nah terus, yang teroris gimana? Tetap ada yang ‘ledak’ ya. Jadi itu selalu ada, nanti ada cara-cara tertentu untuk mengelola terorisnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Direktur BCA: Kunci Bisnis Bukan Kompetitor, tapi Customer