PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp14,69 triliun pada kuartal I-2026. Kinerja laba bersih tersebut tumbuh 3,82% secara tahunan (year on year/yoy) apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 lalu sebesar Rp14,1 triliun.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengatakan perseroan tetap optimistis menjaga kinerja di tengah tantangan dinamika global.

"Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden," katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Alasan Security hingga Pegawai Cabang BCA Ramah ke Nasabah

Kenaikan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan operating income yang naik sebesar 1,1 persen secara tahunan menjadi Rp27,8 triliun.

Kemudian BCA mencatat total kredit sebesar Rp994 triliun, meningkat 5,6% (yoy) dibandingkan Rp941 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit BCA hingga akhir Maret 2026 terutama ditopang kredit produktif sebesar Rp760,2 triliun, meningkat 7,8% (yoy). Seiring komitmen menjalankan prinsip environmental, social, and governance (ESG), penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 10,0% (yoy) menjadi Rp258,4 triliun, atau setara 26% dari total portofolio pembiayaan BBCA.

Kemudian kredit UMKM tercatat tumbuh sebesar 12% (yoy) dengan outstanding Rp146 triliun, mencerminkan dukungan BBCA pada berbagai sektor perekonomian nasional. Kredit hijau BBCA (green financing) tumbuh 7,7% (yoy) mencapai Rp113 triliun, salah satunya didukung penyaluran pembiayaan ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT) yang naik 53,5% (yoy).

Pertumbuhan kredit juga didukung dari pendanaan yang solid dengan dana giro dan tabungan (current account saving account/CASA) sebesar Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% (yoy) seiring penguatan bisnis perbankan transaksi melalui berbagai kanal digital dan non-digital.

Kualitas kredit tetap terjaga. Rasio loan at risk (LAR) tercatat 5,1% dan non-performing loan (NPL) 1,8%. Adapun rasio pencadangan LAR dan NPL masing-masing berada pada level 69,7% dan 174,6%.