Growthmates, kemampuan seorang pemimpin tidak hanya terlihat ketika situasi berjalan normal. Menurut Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, kualitas kepemimpinan justru dapat terlihat dari cara seseorang merespons ketika menghadapi krisis.
Dino mengungkapkan, salah satu pelajaran mengenai kepemimpinan yang ia dapatkan berasal dari percakapannya dengan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ia pernah bertanya kepada Obama mengenai aset atau kekuatan yang dimilikinya sebagai seorang pemimpin.
“Saya pernah nanya Obama, Presiden Obama dulu, what is your asset? Jawabannya very interesting. Dalam situasi apa pun, dalam krisis apa pun, saya selalu kalem dan tenang, nggak pernah panik,” papar Dino, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribdinya @dinopattidjalal, Rabu (16/9/2026).
Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia yang menjabat dari 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014 itu, kemampuan untuk tetap tenang menjadi salah satu hal penting bagi seorang pemimpin ketika berhadapan dengan persoalan yang rumit.
Sebab, krisis sering kali membutuhkan kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih dan mencari jalan keluar, bukan justru memperburuk keadaan.
“Apapun yang terjadi, masalahnya sehebat, serumit apapun, sekacau apapun, saya tetap calm and stable, nggak pernah panik,” kata Dino mengutip jawaban Obama.
Dino kemudian mengaitkan hal tersebut dengan ukuran seorang pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin memang perlu memiliki tujuan atau arah yang jelas, tetapi kemampuan menghadapi krisis juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan.
“Jadi menurut saya ukuran seorang pemimpin itu, tadi kan saya bilang dia harus punya destinasi, tapi the measure of a good leader itu adalah bagaimana dia merespons berada dalam situasi krisis,” ujar Dino.
Ia menilai, persoalan yang muncul seharusnya direspons dengan upaya mencari solusi, bukan justru menciptakan persoalan baru dari masalah yang sudah ada.
“Dan selalu thinking, how do I resolve this? Kan kita banyak ya, ada masalah yang dijadikan masalah yang lebih buruk lagi, so making a problem out of a problem. So that's ukuran bagaimana orang menjadi leader, how you respond to a crisis,” katanya.
Selain kemampuan menghadapi krisis, Dino menekankan bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang harus dimiliki seseorang sejak awal. Menurut dia, leadership merupakan kemampuan yang dapat terus dilatih melalui pengalaman.
“Secondly is this, leadership itu is a muscle, yang bisa kita latih,” kata Dino.
Ia kemudian menceritakan perjalanan kariernya sebagai contoh. Ketika pertama kali menjadi pegawai negeri, Dino mengaku belum memiliki kemampuan kepemimpinan. Seiring bertambahnya tanggung jawab, ia mulai memiliki bawahan dan belajar memimpin orang dalam jumlah yang semakin besar.
“Dulu waktu saya masuk jadi pegawai negeri, saya zero leadership skill. Saya baru punya anak buah setelah 10 tahun, lima orang,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang ketika ia dipercaya menjadi duta besar dan memiliki tanggung jawab terhadap puluhan diplomat. Saat menjadi wakil menteri luar negeri, tanggung jawab kepemimpinannya kembali meningkat dengan jumlah orang yang jauh lebih besar.
“Kemudian setelah jadi duta besar, saya punya anak buah 70 orang, 70 diplomat, selain itu jadi wakil menteri luar negeri, thousands of people gitu ya. In each step, saya mulai belajar how to exercise my leadership muscle,” kata Dino.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Ada Teknologi di Istana yang Bisa Lacak Titik Api Karhutla hingga 1 Meter
Pria yang juga seorang diplomat karier serta mantan Duta Besar AS ini pun lantas mengataka , proses tersebut membuat seseorang belajar berbagai aspek kepemimpinan, termasuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan yang tidak selalu mudah.
“Di awalnya tuh nyuruh orang nggak enak, you have to learn to make priority,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pentingnya ketegasan seorang pemimpin ketika menghadapi pelanggaran aturan. Dalam pandangannya, pemimpin tidak boleh selalu menghindari keputusan sulit hanya karena merasa tidak enak kepada orang lain.
“And you have to learn how to hurt people, hurt dalam arti gini, kalau dia melanggar norma atau dia korupsi atau apa, dia harus dikemplang gitu,” ujar Dino.
Dino menilai, sikap terlalu sungkan atau enggan mengambil risiko dapat membuat seseorang kehilangan kendali dalam menjalankan kepemimpinan.
“Banyak orang yang nggak enakan gitu ya, saya melihat juga banyak menteri ya, akhirnya apa, dia dipimpin bukan memimpin. Karena dia nggak punya konsep, nggak enakan, terus nggak mau merubah, nggak mau ngambil risiko,” katanya.
Bagi Dino, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memimpin dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan kemampuan yang statis, melainkan sesuatu yang dapat terus dibangun dan disempurnakan.
“Percayalah, leadership itu adalah muscle, otot yang bisa dibangun dan bisa disempurnakan,” tegas Dino.
Ia menambahkan, kemampuan tersebut juga berkembang pada para pemimpin melalui proses belajar sepanjang perjalanan kepemimpinannya.
“So, it's a muscle that can be trained and developed,” pungkasnya.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Leadership Adalah Skill yang Bisa Dilatih, Bukan Sekadar Bakat