Di sisi lain, kata dia, kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperburuk kondisi tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa olahraga saja tidak selalu cukup untuk mencegah kolesterol tinggi apabila faktor genetik dan pola makan tidak terkontrol.

"Yang kolesterol tinggi itu selain pada orang yang kurus biasa, juga termasuk pada atlet. Jadi bayangin atlet, ototnya kuat, nonjol, tapi ternyata kolesterol bisa tinggi. Itu tadi karena faktor genetik, faktor kebiasaan makan. Kalau olahraganya atlet tentu saja sudah lebih dari cukup," katanya.

Prof. Zubairi lantas mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh kolesterol tinggi hanya karena merasa tubuhnya kurus dan sehat. Jika dibiarkan tanpa penanganan, lanjut dia, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terbentuknya trombosis atau bekuan darah yang berbahaya.

"Kalau kolesterol tinggi walaupun badan kurus tidak diobati, maka itu risiko timbulnya trombosis, bekuan di pembuluh darah," tegasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa dampak trombosis dapat berbeda-beda tergantung lokasi penyumbatan pembuluh darah. Pada pembuluh darah kaki, kondisi ini dikenal sebagai deep vein thrombosis.

Jika terjadi pada pembuluh darah jantung, dapat memicu penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Sementara jika menyerang pembuluh darah di otak, risikonya adalah stroke.

"Kalau di kaki namanya deep vein thrombophlebitis. Kalau di jantung namanya serangan jantung atau penyakit jantung koroner. Kalau di otak namanya stroke," paparnya.

Karena itu, Prof. Zubairi menyarankan siapa pun yang memiliki kadar kolesterol tinggi untuk segera berkonsultasi dengan dokter, menjalani pemeriksaan menyeluruh, dan mulai menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten.

"Jadi waktunya Anda ke dokter, kemudian diperiksa lengkap, kemudian balik kembali ke gaya hidup sehat," pungkasnya.

Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli