Satu butir telur berukuran besar mengandung sekitar 185 miligram kolesterol. Angka ini sering kali membuat banyak orang khawatir dan bertanya-tanya, apakah mengonsumsi telur setiap hari buruk untuk kesehatan jantung?

Melansir dari data medis Health, mengonsumsi telur dalam batas wajar sebagai bagian dari pola makan ramah jantung tidak terbukti meningkatkan kolesterol darah maupun risiko penyakit jantung. Namun, efeknya bisa berbeda pada beberapa kelompok individu tertentu. 

Yuk, intip beragam fakta ilmiah di balik konsumsi telur setiap hari. Simak baik-baik, ya!

1. Pengaruh Terhadap Tekanan Darah Masih Diperdebatkan

Hubungan antara konsumsi telur dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) hingga saat ini masih menuai pro-kontra di kalangan para peneliti.

Telur sebenarnya termasuk dalam menu Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), yaitu metode diet yang direkomendasikan khusus untuk penderita hipertensi. Sebuah studi klinis kecil mencatat bahwa konsumsi telur setiap hari yang dipadukan dengan pola diet DASH tidak memperburuk indikator kesehatan jantung, termasuk tekanan darah. Selain itu, analisis data riset menunjukkan risiko hipertensi justru lebih rendah pada orang yang rutin makan telur dibanding mereka yang sering mengonsumsi daging merah.

Di sisi lain, sebuah studi terhadap kelompok wanita di Prancis dan analisis data dari National Health and Nutrition Examination Surveys justru menemukan adanya peningkatan risiko hipertensi pada individu dengan tingkat konsumsi telur harian yang paling tinggi. Karena hasilnya bervariasi, penderita hipertensi sangat disarankan untuk berdiskusi dengan dokter mengenai takaran ideal telur dalam menu mereka.

Baca Juga: Mengapa Cek Kolesterol Rutin Penting? Ini Penjelasan yang Perlu Anda Ketahui

2. Bagi Mayoritas Orang, Telur Tidak Mendongkrak Kolesterol Jahat

Mengapa makanan tinggi kolesterol seperti telur tidak otomatis membuat kolesterol darahmu meroket? Rahasianya ada pada mekanisme kompensasi tubuh kita. Ketika kamu mengonsumsi makanan yang kaya kolesterol, organ hati (liver) secara otomatis akan mengerem dan mengurangi produksi kolesterol alaminya sendiri, sehingga kadar kolesterol di dalam darah tetap seimbang.

Uji klinis membuktikan bahwa makan dua butir telur per hari dalam pola diet rendah lemak jenuh tidak menaikkan kadar kolesterol jahat (LDL) jika dibandingkan dengan orang yang jarang makan telur. Kunci utamanya ternyata bukan pada kolesterol makanan tersebut, melainkan pada seberapa banyak asupan lemak jenuh yang kamu konsumsi. Menariknya lagi, meski telur kadang sedikit menaikkan LDL pada populasi tertentu, makanan ini juga secara bersamaan mendongkrak kolesterol baik (HDL). Alhasil, rasio total LDL-ke-HDL (indikator utama risiko jantung) tetap stabil atau bahkan membaik.

3. Kenapa Telur Berbeda dari Makanan Berkolesterol Lainnya?

Tidak semua makanan berkolesterol memberikan efek yang sama pada tubuh. Telur relatif sangat rendah lemak jenuh jika dibandingkan dengan makanan olahan seperti daging asap (bacon), sosis, atau mentega, yang terbukti kuat mendongkrak LDL.

Selain itu, telur adalah makanan yang sangat padat nutrisi (nutrient-dense). Telur memasok protein berkualitas tinggi, Vitamin B12, selenium, Vitamin D, serta kolin. Senyawa kolin ini memegang peran yang sangat vital dalam mendukung kesehatan fungsi otak dan menjaga kinerja organ hati.