PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), emiten penyedia layanan transportasi, logistik, dan ekosistem kendaraan bekas, mencatatkan pendapatan sebesar Rp3,06 triliun, tumbuh 8,1% secara tahunan (YoY) pada semester I-2026. Di sisi profitabilitas, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp271,24 miliar.

“Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi tantangan, kami bersyukur ASSA mampu menjaga pendapatan stabil, yang menunjukkan bahwa fundamental bisnis Perseroan tetap kuat,” kata Prodjo Sunarjanto, Direktur Utama ASSA, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Cinema XXI Raup Pendapatan Rp2,6 Triliun di Semester I 2026, Penonton Tembus 37,4 Juta

Hingga periode kali ini, segmen logistik tetap menjadi kontributor terbesar dengan perolehan pendapatan sebesar Rp1,35 triliun atau tumbuh 13,1% YoY. Sementara, segmen rental mencatatkan pendapatan Rp1,04 triliun atau tumbuh 6,5% YoY. Dari sisi segmen ekosistem kendaraan bekas, penjualan kendaraan bekas melalui Caroline.id mencatatkan pertumbuhan 8,2% YoY menjadi Rp565,06 miliar, dan bisnis lelang melalui JBA Indonesia masih menghadapi tantangan pasokan kendaraan.

Menurut Prodjo, selain keberhasilan dalam hal optimalisasi dan efisiensi, diversifikasi lini bisnis dengan basis pelanggan yang beragam juga merupakan salah satu faktor pendukung ketahanan kinerja Perseroan. ASSA pun fokus untuk terus memperkuat dan memperluas layanan logistik agar menjadi penyedia layanan end-to-end logistic yang paripurna dan terpercaya. Salah satunya, Perseroan telah menyelesaikan pembangunan gudang logistik rantai dingin melalui Coldpsace yang terletak di Pulo Gadung dengan kapasitas mencapai 20 ribu palet.

“Tren permintaan yang terus berkembang telah membuat penguatan layanan logistik rantai dingin menjadi penting bagi Perseroan,” kata Prodjo.

Di samping itu, seluruh integrasi layanan logistik juga semakin diperkuat dengan TMS (Transportation Management System) dan WMS (Warehouse Management System) yang terus dikembangkan agar pengiriman berjalan optimal hingga end customer. TMS adalah perangkat lunak untuk mengelola pengiriman barang, termasuk pemilihan rute, optimasi armada, dan pelacakan secara realtime. Sedangkan WMS adalah sistem perangkat lunak untuk mengontrol dan mengoptimalkan aktivitas di dalam gudang, seperti penerimaan barang, penyimpanan, dan pengambilan pesanan.

Pada lini bisnis rental, ASSA masih memiliki permintaan yang solid karena tidak bergantung pada satu pasar. Memiliki sumber pendapatan yang beragam telah menjadikan kinerja lini bisnis ini memiliki ketahanan yang lebih tinggi dalam menghadapi gejolak ekonomi.

Adapun pada ekosistem mobil bekas, permintaan pembelian mobil bekas melalui Caroline.id masih kuat. Namun demikian, tantangan datang dari situasi lelang lewat JBA yang masih dihadapkan pada daya beli yang fluktuatif.

Melihat perkembangan ekonomi yang terjadi hingga akhir semester pertama tahun ini, Perseroan memilih lebih konservatif dalam menentukan target kinerja. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, ASSA melihat bahwa pertumbuhan pendapatan 5-10% merupakan target yang realistis untuk dicapai pada tahun ini.