AI Percepat Skrining Kanker Paru

Selain kanker payudara, teknologi AI juga diterapkan dalam skrining kanker paru. Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru merupakan salah satu jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Kanker paru biasanya diawali dengan terbentuknya nodul atau benjolan kecil pada jaringan paru. Deteksi nodul sejak dini dapat menjadi indikator awal yang penting untuk diagnosis kanker paru.

Subspesialis onkologi toraks dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D., Sp.P(K) menjelaskan manfaat teknologi AI dalam skrining penyakit paru.

“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien," terang dr. Sita Laksmi.

Sistem AI yang digunakan melalui software Qure.ai mampu membantu mendeteksi berbagai kelainan paru sekaligus memberikan penilaian risiko nodul yang teridentifikasi.

Kemudian, Dokter spesialis radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad menjelaskan bahwa AI berperan sebagai alat bantu dalam proses interpretasi hasil pemeriksaan radiologi.

“Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail. Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan," beber dr. Dewi Tantra.

Namun ia menegaskan bahwa AI tidak menggantikan peran dokter.

“AI membantu menandai nodul yang perlu dikaji lebih lanjut, namun penting dipahami bahwa AI tidak menggantikan peran dokter. Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter, yang mengintegrasikan hasil teknologi dengan kondisi pasien secara menyeluruh," sambungnya.

Memperkuat Ekosistem Layanan Kanker Nasional

Kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem layanan kanker nasional melalui pemanfaatan teknologi digital.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, menilai bahwa teknologi AI merupakan langkah strategis dalam menghadapi peningkatan beban kanker di Indonesia.

“Peningkatan beban kanker di Indonesia menuntut penguatan pendekatan yang lebih terintegrasi, khususnya dalam memastikan diagnosis yang tepat waktu dan akurat. Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik dan meningkatkan akurasi interpretasi klinis," papar dr. Feddy.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, menegaskan bahwa teknologi AI dirancang untuk memperkuat kemampuan tenaga medis, bukan menggantikannya.

“Melalui kolaborasi ini, kami memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses skrining dan analisis kanker secara lebih cepat dan tepat. Teknologi ini tidak bertujuan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi pendamping yang memperkaya pengambilan keputusan klinis," terang David.

Ia juga menambahkan bahwa inisiatif ini diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas.

“Kami berkomitmen mengembangkan model layanan yang dapat direplikasi secara nasional, agar masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengakses perawatan kanker berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri.”

Sementara itu, President Director AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional.

“AstraZeneca berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis sains yang berdampak nyata bagi pasien. Melalui kolaborasi dengan Siloam International Hospitals dan pemanfaatan AI, kami berharap dapat memperkuat skrining dini dan diagnosis kanker serta mendukung transformasi kesehatan nasional menuju sistem layanan kanker yang lebih efektif dan berkelanjutan,” tutup Esra Erkomay.

Baca Juga: Peran AstraZeneca Indonesia dalam Meningkatkan Kesadaran dan Pencegahan RSV pada Bayi Berisiko Tinggi