Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais terus berupaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan Next Generation Sequencing (NGS), teknologi pemeriksaan genetik yang berperan penting dalam menentukan terapi kanker secara lebih presisi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan berbagai mitra agar biaya pemeriksaan dapat lebih terjangkau bagi pasien.

Humas RS Kanker Dharmais, Anjari Umarjianto, menjelaskan bahwa NGS merupakan pemeriksaan berbasis genetik dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Karena itu, biaya layanan tersebut relatif lebih mahal dibandingkan pemeriksaan kesehatan pada umumnya.

Baca Juga: Mengenal NGS, Teknologi Pemeriksaan Genetik yang Bantu Menentukan Terapi Kanker

"Ini pemeriksaan yang sifatnya lebih tepat dan berbasis genetik. Secara biaya memang tidak banyak masyarakat yang bisa mengakses karena biaya pemeriksaannya cukup tinggi," ujarnya kepada Olenka. 

Menurut Anjari, kebutuhan terhadap pemeriksaan NGS terus meningkat seiring berkembangnya pengobatan kanker yang semakin mengedepankan pendekatan personal dan berbasis karakteristik genetik pasien.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, RS Kanker Dharmais menggandeng berbagai perusahaan dan mitra strategis agar lebih banyak pasien kanker dapat memperoleh akses terhadap pemeriksaan NGS.

Baca Juga: Kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Hadirkan Next-Generation Sequencing (NGS)

"Oleh sebab itu, Rumah Sakit Kanker Dharmais berkolaborasi dengan berbagai pihak agar semakin banyak pasien kanker yang membutuhkan pemeriksaan NGS dapat mengakses layanan tersebut," katanya.

Melalui kolaborasi tersebut, rumah sakit berharap biaya pemeriksaan dapat ditekan sehingga manfaat teknologi NGS dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas, khususnya pasien kanker yang membutuhkan terapi yang lebih tepat sasaran.

Selain persoalan biaya, penyediaan layanan NGS juga menghadapi tantangan lain berupa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Anjari menjelaskan bahwa sebagian bahan dan reagen yang digunakan dalam pemeriksaan masih bergantung pada produk impor.

Menurutnya, penguatan dolar dapat berdampak pada biaya pengadaan bahan pemeriksaan. Meski demikian, RS Kanker Dharmais berkomitmen untuk terus menjaga keterjangkauan layanan bagi pasien.

"Kenaikan nilai dolar tentu berdampak karena bahan-bahan dan reagen yang dibutuhkan masih banyak yang berasal dari impor. Namun kami tetap berkomitmen memperluas kerja sama dengan berbagai mitra agar pemeriksaan NGS tetap terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.

Ke depan, RS Kanker Dharmais berharap kolaborasi yang terus diperluas dapat membantu meningkatkan akses pasien terhadap teknologi diagnostik modern. Dengan begitu, lebih banyak pasien kanker dapat memperoleh pemeriksaan yang mendukung penentuan terapi secara lebih cepat, tepat, dan personal.

"Kami berupaya agar pemeriksaan NGS ini dapat terus dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan, terutama pasien kanker yang menjalani pengobatan di RS Kanker Dharmais," pungkas Anjari.