Selama ini kanker kerap dipandang sebagai penyakit yang ditentukan oleh faktor keturunan. Padahal, para ahli menegaskan bahwa sebagian besar risiko kanker justru berasal dari gaya hidup dan lingkungan. Mulai dari pola makan, kebiasaan merokok, paparan polusi, hingga minimnya aktivitas fisik.

Pandangan ini disampaikan dalam talk show edukatif yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerja sama dengan MSD Indonesia. Menghadirkan Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo dan Wakil Ketua YKI drg. Sally Salziah Sudrajat, Sp.OM, diskusi ini mengajak masyarakat memahami kanker secara lebih terbuka, berbasis ilmu pengetahuan, dan tanpa stigma.

Acara tersebut berlangsung di tengah pameran seni bertema kanker, yang sekaligus menjadi ruang dialog publik untuk mengedukasi masyarakat bahwa kanker bukan hanya persoalan medis, melainkan juga isu kemanusiaan.

Baca Juga: Seni dan Dialog: Memperingati Hari Kanker Sedunia Lewat Pameran dan Talk Show Edukatif

Risiko Kanker Lebih Banyak Datang dari Gaya Hidup

Berdasarkan data Global Observatory Cancer (GLOBOCAN), Indonesia mencatat lebih dari 400.000 kasus kanker baru setiap tahun, dengan angka kematian mencapai sekitar 240.000 jiwa. Angka ini diperkirakan terus meningkat jika tidak diimbangi dengan upaya pencegahan yang serius.

Prof. Aru menegaskan bahwa sekitar 90 persen faktor risiko kanker berasal dari gaya hidup dan lingkungan, bukan semata-mata faktor genetik.

Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Survive dari Kanker Hati Stadium IV

“Kanker tidak mengenal usia, status sosial, atau wilayah. Ia bisa menyerang siapa saja. Namun kabar baiknya, sebagian besar risikonya dapat dikendalikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup modern membuat risiko kanker muncul lebih cepat. Jika sebelumnya kanker lebih banyak ditemukan pada usia lanjut akibat akumulasi paparan selama puluhan tahun, kini penyakit ini semakin sering menyerang kelompok usia produktif.

“Makanan ultra-proses, polusi udara, kebiasaan merokok, serta minimnya aktivitas fisik membuat paparan karsinogen terjadi sejak dini,” kata Prof. Aru.

Pola Makan Modern dan Lonjakan Kasus Kanker

Salah satu contoh yang disoroti adalah meningkatnya kasus kanker usus besar. Menurut Prof. Aru, perubahan pola makan menjadi faktor utama di balik tren ini.

Baca Juga: Riset: Pria Lebih Berisiko Terkena Kanker Akibat Polusi Udara

“Konsumsi makanan kemasan yang tinggi lemak olahan, rendah serat, dan minim sayur sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Ini berkontribusi pada meningkatnya kanker usus besar, bahkan di negara berkembang seperti Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tubuh kini “dikepung” oleh berbagai produk industri yang sulit dihindari. Jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat, risiko kanker pun meningkat.

Meluruskan Mitos Kanker Turunan

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Aru juga meluruskan anggapan bahwa kanker selalu bersifat keturunan.

“Hanya sekitar 6 hingga 10 persen kasus kanker yang benar-benar bersifat herediter, seperti yang terkait mutasi gen BRCA pada kanker payudara dan ovarium,” katanya.

Baca Juga: 10 Makanan yang Efektif Mencegah Kanker Usus Besar Menurut Ahli Gastroenterologi

Untuk kelompok dengan risiko genetik tinggi, ia menyarankan deteksi dini dilakukan lebih awal, bahkan sejak usia 35 tahun. Sementara pada sebagian besar kasus lainnya, risiko kanker meningkat karena kesamaan lingkungan dan kebiasaan dalam keluarga.

“Jika ada anggota keluarga yang terkena kanker, risikonya bisa dua kali lipat. Tapi bukan semata karena gen, melainkan karena pola hidup dan lingkungan yang sama,” ujarnya.

"Lifestyle Medicine" sebagai Kunci Pencegahan

Wakil Ketua YKI drg. Sally Salziah Sudrajat memperkenalkan pendekatan lifestyle medicine sebagai strategi pencegahan berbasis bukti ilmiah. Menurutnya, hingga 80 persen penyakit kronis, termasuk kanker, dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup.

“Ini bukan tentang diet ketat atau aturan ekstrem, tetapi pola hidup yang konsisten dan berkelanjutan,” katanya.

Baca Juga: Upaya Memperkuat Skrining Kanker Serviks di Indonesia

Lebih lanjut, ia menekankan nutrisi sebagai pilar utama. Pola makan berbasis tanaman utuh, seperti sayuran, buah, dan biji-bijian dinilai lebih efektif dalam menekan peradangan dan menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

“Makan teratur setiap tiga sampai empat jam membantu menjaga kestabilan gula darah. Lonjakan glukosa dan insulin resistance bisa memicu peradangan kronis, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko kanker,” jelasnya.

Selain nutrisi, drg. Sally menyoroti pentingnya aktivitas fisik, tidur cukup, manajemen stres, serta menghindari rokok dan alkohol.

“Berjalan kaki 30 menit setiap hari saja dapat menurunkan risiko kanker hingga 20–30 persen. Jangan menunggu sakit untuk berubah,” tegasnya.

Dengan demikian, kedua pakar sepakat bahwa edukasi adalah fondasi utama pencegahan kanker. Perubahan gaya hidup idealnya dimulai sejak usia dini dan diterapkan dalam lingkungan keluarga.

Baca Juga: 'Deteksi Dini Jadi Kunci Tingkatkan Peluang Hidup Pasien Tumor dan Kanker'

“Kanker bukan hanya persoalan medis, tetapi persoalan kemanusiaan. Dukungan keluarga dan caregiver memiliki peran besar dalam perjalanan penyintas,” ujar Prof. Aru.

Melalui kampanye #NgobrolinKanker, YKI dan MSD Indonesia berharap masyarakat semakin terbuka membicarakan kanker, mengurangi stigma, serta terdorong untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini.

“Jadikan kepedulian sebagai budaya, deteksi dini sebagai kebiasaan, dan dukungan sebagai kewajiban,” tutupnya.