Growthmates, sepanjang sejarah, tidak sedikit perempuan yang berani menyuarakan peringatan tentang masa depan dunia.
Namun, alih-alih didengar, mereka sering dicap sebagai pengkhawatir, histeris, bahkan tidak kredibel. Ada yang dituduh menyebarkan propaganda, ada pula yang dianggap sekadar menulis fiksi tanpa nilai kebijakan.
Padahal, melalui buku-buku mereka, para penulis ini menyampaikan peringatan yang pada akhirnya terbukti relevan dengan berbagai krisis yang kita alami saat ini, mulai dari kerusakan lingkungan, pembatasan hak perempuan, krisis iklim, hingga manipulasi kekuasaan saat bencana.
Dan dikutip dari Times Now News, Jumat (6/3/2026), pada peringatan International Women's Day 2026, kisah mereka menjadi pengingat penting. Bukan soal bagaimana mereka bisa melihat masa depan, tetapi mengapa dunia sering menolak untuk mendengarkan.
1. Rachel Carson – Silent Spring (1962)
Ketika ahli biologi kelautan Rachel Carson menerbitkan Silent Spring, ia memperingatkan bahaya pestisida kimia khususnya DDT, yang merusak ekosistem dan dapat masuk ke rantai makanan manusia.
Alih-alih disambut sebagai peringatan ilmiah, Carson justru diserang oleh industri kimia. Ia dicap sebagai perempuan histeris, bahkan dituduh memiliki simpati terhadap komunisme.
Padahal, penelitian Carson memicu lahirnya gerakan lingkungan modern di Amerika Serikat. Dampaknya begitu besar hingga mendorong pembentukan United States Environmental Protection Agency (EPA) dan pelarangan DDT.
Carson meninggal dua tahun setelah bukunya terbit dan tidak sempat melihat perubahan besar tersebut. Ironisnya, puluhan tahun kemudian residu DDT masih ditemukan dalam tubuh manusia membuktikan bahwa kekhawatirannya jauh dari berlebihan.
2. Margaret Atwood – The Handmaid's Tale (1985)
Dalam novel distopia ini, Margaret Atwood menggambarkan sebuah negara teokratis di mana perempuan kehilangan hak atas tubuh, identitas, bahkan kebebasan finansial.
Saat diterbitkan, banyak pengulas menganggap kisah tersebut hanya sebagai fantasi politik yang ekstrem. Namun, Atwood sendiri menegaskan bahwa semua peristiwa dalam bukunya pernah terjadi di suatu tempat dalam sejarah.
Perdebatan tentang hak reproduksi kembali mengemuka setelah Roe v. Wade dibatalkan oleh Supreme Court of the United States pada 2022.
Sejak itu, berbagai pembatasan terhadap hak reproduksi terus menjadi perdebatan di sejumlah negara bagian Amerika Serikat.
Simbol-simbol dari novel Atwood seperti jubah merah para Handmaid, bahkan kini sering terlihat dalam demonstrasi global yang menuntut perlindungan hak perempuan.
Baca Juga: 8 Buku Karya Penulis Perempuan yang Bisa Mengubah Cara Pandang Anda di 2026
3. Octavia E. Butler – Parable of the Sower (1993)
Penulis fiksi ilmiah asal Pasadena ini menempatkan latar novelnya pada tahun 2024. Dalam ceritanya, dunia dilanda perubahan iklim ekstrem, krisis air, serta kebakaran hutan yang melanda California.
Butler juga menggambarkan munculnya tokoh politik yang berkampanye dengan slogan 'Make America Great Again', sebuah frasa yang kemudian benar-benar menjadi slogan politik beberapa dekade setelah buku itu diterbitkan.
Ketika kebakaran hutan besar kembali melanda wilayah Los Angeles, banyak pembaca merasa novel Butler terasa seperti cermin masa depan.
Butler sendiri pernah berkata bahwa ia tidak sedang meramalkan apa pun.
Menurutnya, ia hanya 'memperhatikan dunia dengan saksama'.
4. Azar Nafisi – Reading Lolita in Tehran (2003)
Memoar ini menceritakan pengalaman Nafisi yang mengundang tujuh mahasiswinya ke ruang tamu rumahnya di Tehran untuk membaca karya sastra Barat yang dilarang oleh rezim.
Buku yang telah terjual lebih dari 1,5 juta kopi itu menggambarkan bagaimana sistem otoriter dapat membatasi kebebasan berpikir, terutama bagi perempuan.
Kisah Nafisi terasa semakin relevan ketika gelombang protes perempuan di Iran pada 2022 mengangkat slogan Women, Life, Freedom.
Memoarnya kini sering dibaca sebagai kesaksian tentang bagaimana otoritarianisme memengaruhi kehidupan pribadi dan intelektual perempuan.
5. Naomi Klein – The Shock Doctrine (2007)
Dalam bukunya, Naomi Klein memperkenalkan konsep 'kapitalisme bencana' atau gagasan bahwa krisis besar sering dimanfaatkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mendorong kebijakan yang sulit diterima publik dalam kondisi normal.
Ia menelusuri pola tersebut dari pemerintahan Augusto Pinochet di Chile hingga privatisasi yang terjadi setelah Hurricane Katrina di New Orleans.
Sejak buku itu terbit, berbagai krisis global mulai dari krisis finansial 2008 hingga pandemi COVID-19, sering dijadikan contoh bagaimana kebijakan drastis dapat muncul di tengah situasi darurat.
Klein sendiri tidak mengklaim meramalkan masa depan. Ia hanya menjelaskan sebuah pola kekuasaan yang terus berulang.
Baca Juga: 12 Buku yang Menginspirasi dan Menguatkan Perempuan di Setiap Tahap Hidup