Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali membuka Program Beasiswa SDM Sawit Tahun 2026 dengan kuota penerima mencapai 5.000 mahasiswa. Jumlah tersebut meningkat dari 4.000 penerima pada tahun sebelumnya dan menjadi kuota terbesar sejak program ini pertama kali diluncurkan pada 2016.

Peningkatan kuota tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor kelapa sawit sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda yang memiliki keterkaitan dengan industri sawit nasional.

Program Beasiswa SDM Sawit merupakan hasil kolaborasi BPDP, Kementerian Pertanian, dan puluhan perguruan tinggi mitra di berbagai daerah.

Hingga 2025, program ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 13.265 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan menjadi salah satu instrumen penting dalam menyiapkan regenerasi tenaga profesional di sektor perkebunan.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa program beasiswa sawit merupakan investasi jangka panjang yang akan terus dijalankan BPDP.

"Selama BPDP berdiri, Program Beasiswa SDM Sawit akan tetap ada. Tahun ini BPDP meningkatkan kuota penerima Beasiswa SDM Sawit menjadi 5.000 orang. Peningkatan ini merupakan komitmen kami untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada generasi muda Indonesia dalam memperoleh pendidikan tinggi dan menyiapkan SDM unggul yang akan menjadi penggerak industri sawit di masa depan," papar Alfansyah, saat Media Briefing Beasiswa SDM Sawit 2026 diRuang Ballroom Lantai I BPDP, Gedung Surachman Tjokrodisurjo, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Alfansyah, keberlanjutan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh peremajaan tanaman, tetapi juga oleh kesiapan SDM yang mengelola sektor tersebut.

Berbeda dengan sebagian besar program beasiswa nasional yang berfokus pada jenjang sarjana, Beasiswa SDM Sawit memberi perhatian besar pada pendidikan vokasi, terutama Diploma 1 (D1) dan Diploma 2 (D2). Kebijakan ini diambil karena industri sawit membutuhkan banyak tenaga teknis dan supervisor lapangan yang siap bekerja.

"Kalau dari kita, BPDP dan Kementerian Pertanian bersepakat bahwa kita harus kuatkan di sisi fondasinya. Fondasinya itu mandor panen, mandor perawatan, dan berbagai tenaga teknis lainnya. Karena itu kualifikasinya banyak yang D1 dan D2," jelas Alfansyah.

Program ini terbuka bagi berbagai kelompok yang memiliki keterkaitan dengan sektor sawit, mulai dari pekebun dan keluarganya, pekerja perkebunan, pelaku usaha sawit, pengurus organisasi pekebun, penyuluh pertanian, hingga aparatur sipil negara yang bekerja di sektor perkebunan.

"Beasiswa ini terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk anak petani, karyawan, pelaku usaha, dan ASN yang bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit," ujar Alfansyah.

BPDP juga memberikan dukungan menyeluruh kepada penerima beasiswa, tidak hanya berupa biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup, transportasi, sertifikasi kompetensi, hingga program pengembangan karakter dan kepemimpinan.

"Kita berikan biaya hidup, bukan bantuan hidup. Artinya kita yakin apa yang kita berikan itu cukup untuk hidup di kota tempat perguruan tinggi berada tanpa harus meminta tambahan dari orang tua lagi," papar Alfansyah.

Baca Juga: Olenka dan BPDP Gelar SWOT di Bekasi, Kupas Manfaat Sawit yang Dekat dengan Keseharian