Memilih jurusan kuliah kerap dianggap sebagai salah satu langkah penting untuk menentukan masa depan karier. Namun, tingginya jumlah lulusan dari suatu bidang studi ternyata juga dapat membuat persaingan di pasar kerja semakin ketat.
Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap lima bidang studi yang paling banyak ditemukan di kalangan pengangguran berpendidikan minimal S1 di Indonesia.
Berdasarkan analisis terhadap data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, kelima bidang studi tersebut secara kumulatif mencakup sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan minimal S1.
Temuan itu tertuang dalam laporan LPEM FEB UI berjudul Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? yang disusun Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah.
Lantas, bidang studi apa saja yang memiliki porsi terbesar di antara pengangguran lulusan S1?
1. Manajemen – 10,3%
Manajemen menempati posisi pertama dengan porsi 10,3% dari pengangguran lulusan S1.
Besarnya angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa lulusan manajemen memiliki peluang kerja paling rendah. Salah satu faktor yang perlu diperhitungkan adalah jumlah lulusan manajemen yang memang sangat besar karena program studi ini tersedia di banyak perguruan tinggi di Indonesia.
Bidang manajemen juga memiliki cakupan karier yang luas, mulai dari pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, pengelolaan organisasi hingga berbagai sektor industri. Namun, luasnya pilihan tersebut juga membuat lulusannya harus bersaing dengan lulusan bidang lain, seperti hukum, ekonomi, komunikasi, dan bisnis, terutama untuk posisi pekerjaan tingkat awal.
2. Hukum – 9,0%
Bidang studi hukum berada di posisi kedua dengan porsi 9,0%.
Lulusan hukum memiliki sejumlah jalur karier yang relatif jelas, seperti advokat, notaris, bekerja di lembaga hukum, perusahaan, maupun instansi pemerintahan.
Baca Juga: Wamen Stella Sebut Pengangguran RI Tidak Semata-mata Karena Keterbatasan Lapangan Kerja
Namun, tingginya jumlah lulusan hukum setiap tahun membuat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin ketat. Selain jumlah lulusan, peluang kerja juga dipengaruhi kebutuhan tenaga kerja dan persyaratan khusus pada profesi tertentu.
3. Ekonomi – 8,7%
Selanjutnya, bidang ekonomi menyumbang 8,7% dari pengangguran lulusan S1.
Lulusan ekonomi memiliki peluang untuk bekerja di berbagai sektor. Namun, fleksibilitas tersebut juga berarti mereka harus berhadapan dengan lulusan dari bidang lain, seperti bisnis, manajemen, statistik, maupun keuangan.
Persaingan lintas bidang tersebut menjadi salah satu tantangan bagi lulusan ekonomi ketika memasuki pasar kerja.
4. Pendidikan – 7,1%
Bidang pendidikan menempati posisi keempat dengan porsi 7,1%.
Bidang ini mencakup beragam program studi, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi hingga pendidikan vokasi.
Baca Juga: Pengangguran Turun, Prabowo dapat Catatan Positif dari Guru Besar
Menurut LPEM FEB UI, peluang kerja lulusan bidang pendidikan tidak hanya ditentukan oleh jumlah lulusan, tetapi juga berbagai faktor eksternal. Di antaranya adalah kebutuhan guru di masing-masing daerah, sistem rekrutmen tenaga pendidik, serta jumlah formasi yang tersedia setiap tahun.
Artinya, lulusan pendidikan dapat menghadapi kondisi pasar kerja yang berbeda-beda tergantung kebutuhan tenaga pendidik di wilayah dan bidang masing-masing.
5. Akuntansi – 5,1%
Akuntansi melengkapi lima besar dengan porsi 5,1%.
Selama ini, akuntansi dikenal memiliki jalur karier yang cukup beragam dan dibutuhkan di berbagai sektor. Namun, tingginya jumlah lulusan setiap tahun juga membuat persaingan di pasar kerja cukup ketat.
Baca Juga: Kisah Direktur BCA dari Teknik Elektro ke Perbankan: Tidak Salah Jurusan!
Lulusan akuntansi tidak hanya bersaing untuk posisi akuntansi, tetapi juga dengan lulusan bidang lain untuk berbagai pekerjaan di sektor keuangan, bisnis, dan administrasi.
Bukan Berarti Prospek Kerjanya Paling Buruk
Meski kelima bidang studi tersebut memiliki porsi terbesar di antara pengangguran lulusan S1, LPEM FEB UI menegaskan bahwa data tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai bukti bahwa prospek kerja bidang-bidang tersebut paling buruk.
Pasalnya, angka tersebut menunjukkan komposisi pengangguran berdasarkan latar belakang pendidikan, bukan tingkat pengangguran dari masing-masing jurusan.
Dengan kata lain, bidang studi yang memiliki jumlah lulusan sangat besar secara alami berpotensi menyumbang jumlah pengangguran yang lebih besar dibandingkan bidang studi dengan jumlah lulusan lebih sedikit.
Untuk mengetahui risiko pengangguran secara lebih akurat, jumlah pengangguran dari suatu bidang studi perlu dibandingkan dengan keseluruhan angkatan kerja yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama.
Lulusan Informatika Juga Masuk dalam Data Pengangguran
Temuan lain yang cukup menarik adalah lulusan ilmu komputer atau informatika menyumbang sekitar 4,6% dari total pengangguran lulusan S1.
Angka ini menarik perhatian karena bidang teknologi informasi selama ini kerap dipandang sebagai salah satu bidang dengan prospek kerja yang menjanjikan.
LPEM FEB UI menilai kebutuhan industri teknologi dapat berubah dengan cepat. Karena itu, peluang kerja lulusan bidang teknologi tidak hanya bergantung pada gelar yang dimiliki, tetapi juga dipengaruhi kualitas pendidikan, kemampuan praktis, pengalaman kerja, serta penguasaan teknologi yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Jutaan Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasinya
Selain persoalan pengangguran, laporan LPEM FEB UI juga menyoroti fenomena overeducated di Indonesia.
Sekitar 8 juta lulusan sarjana tercatat bekerja pada posisi yang membutuhkan kualifikasi pendidikan lebih rendah dibandingkan tingkat pendidikan yang mereka miliki.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan pasar kerja Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya pekerjaan. Ada pula persoalan kesesuaian antara kompetensi dan tingkat pendidikan lulusan dengan pekerjaan yang tersedia.