Sejumlah capaian kinerja ekonomi nasional pada semester pertama 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus 2026 mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Prof. Dr. Marihot Manullang, Guru Besar di Fakultas Ekonomi Bisnia Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru . Ia kombinasi indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif tersebut merupakan hasil dari kepemimpinan strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mengelola perekonomian nasional.
Prof. Marihot memaknai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen pada semester pertama 2026, angka ini jauh di atas capaian semester pertama 2025 yang sebesar 5,00 persen, sebagai indikator makro yang sangat menggembirakan. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Asia.
"Capaian pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester pertama 2026 ini bukan angka yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari strategi eksekusi kebijakan yang konsisten. Dari perspektif manajemen strategi, angka ini menunjukkan bahwa Presiden Prabowo berhasil menerjemahkan visi menjadi program konkret, dan program konkret menjadi hasil yang bisa diukur. Ini adalah bukti kepemimpinan yang berorientasi pada hasil," ujar Prof. Marihot Manullang yang juga merupakan Rektor Universitas Simalungun Periode 2014 - 2018 ini dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (11/8).
Prof. Marihot juga menggarisbawahi capaian bersejarah di sektor ketenagakerjaan yang menjadi indikator paling langsung dirasakan masyarakat. BPS melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 turun menjadi 4,65 persen yang merupakan angka terendah sejak 1994 atau dalam kurun lebih dari tiga dekade terakhir.
"Ini pencapaian yang sangat bersejarah. Tingkat pengangguran 4,65 persen adalah yang terendah sejak 1994. Kita berbicara tentang kondisi ketenagakerjaan yang belum pernah kita rasakan selama lebih dari tiga puluh tahun. Dari sudut pandang Manajemen Sumber Daya Manusia, ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional mampu menyerap tenaga kerja secara masif, dan itu adalah indikator paling nyata dari kesehatan sebuah perekonomian. Ketika pengangguran turun ke titik historis, itu berarti dampaknya sampai ke rumah tangga rakyat," jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Perkasa ke Bawah Rp17.800 Usai Istana Umumkan Calon Tunggal Gubernur BI Pilihan Prabowo
Ia meyakini capaian tersebut menjadi lebih bermakna karena diiringi oleh perbaikan indikator kemiskinan. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang atau 8,07 persen, turun dari September 2025 yang tercatat 23,36 juta orang atau 8,25 persen. Menurut Prof. Marihot, kombinasi turunnya pengangguran dan kemiskinan secara serentak adalah sinyal bahwa kebijakan pemerintah tepat sasaran.
"Ketika pengangguran turun ke titik terendah dalam 32 tahun, dan pada saat yang sama angka kemiskinan juga menurun, itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari strategi kebijakan yang berjalan searah dan saling menguatkan. Presiden Prabowo mampu menjaga koherensi antara berbagai program prioritasnya, dan hasilnya kita lihat pada indikator makro maupun mikro secara bersamaan," ungkapnya.
Prof. Marihot membaca kondisi pasar keuangan sebagai sinyal penting berikutnya yang menunjukkan tren pemulihan. Nilai tukar Rupiah pada awal Agustus 2026 kembali menguat ke kisaran Rp 17.978 per dolar AS, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS di pasar global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mencatatkan kinerja yang mengesankan pada Juli 2026 dengan penguatan sebesar 10,51 persen dalam satu bulan, kenaikan bulanan yang menempatkan IHSG sebagai salah satu pasar saham berkinerja terbaik di kawasan Asia.
"Yang sangat menarik untuk kita cermati adalah tren pemulihan di pasar keuangan. Rupiah kembali menguat, IHSG mencatatkan penguatan double digit dalam satu bulan pada Juli 2026, bahkan menjadi salah satu yang terbaik di Asia. Dari kacamata manajemen strategi, ini adalah cerminan dari kembalinya kepercayaan pasar. Kepercayaan pasar tidak pernah datang dari retorika, ia datang dari track record eksekusi. Dan itu yang sedang ditunjukkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo hari ini," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Prof. Marihot menegaskan bahwa keseluruhan capaian ini seyogianya menjadi modal penting untuk membangun optimisme publik terhadap arah perekonomian nasional. Ia menyebut kombinasi indikator positif tersebut sebagai bukti nyata bahwa Indonesia berada di jalur yang benar menuju penguatan ekonomi jangka panjang.
"Pertumbuhan ekonomi 5,45 persen, pengangguran 4,65 persen yang terendah dalam 32 tahun, kemiskinan menurun, Rupiah menguat, dan IHSG kembali bergerak positif. Kombinasi capaian ini seharusnya menjadi modal untuk menumbuhkan optimisme publik. Sebagai akademisi yang mendalami manajemen strategi, saya melihat Indonesia hari ini sedang berada di jalur yang benar. Presiden Prabowo membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, eksekusi yang konsisten, dan tim yang solid, capaian besar bisa diraih. Inilah yang patut kita dukung bersama demi masa depan bangsa," tutupnya.