Growthmates, di tengah musim laporan keuangan perusahaan, banyak investor berlomba-lomba mencermati angka pendapatan untuk menilai prospek saham yang mereka miliki.

Salah satu metrik yang paling sering menjadi sorotan adalah EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Bagi banyak perusahaan, EBITDA dianggap mampu menggambarkan profitabilitas operasional tanpa dipengaruhi oleh struktur pembiayaan, beban pajak, maupun biaya nonkas seperti depresiasi dan amortisasi.

Namun, pandangan tersebut justru bertolak belakang dengan filosofi investasi dua legenda Berkshire Hathaway, Warren Buffett dan mendiang Charlie Munger.

Charlie Munger bahkan secara terang-terangan menolak penggunaan EBITDA. Menurutnya, metrik tersebut tidak mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

"Saya pikir, setiap kali Anda melihat kata EBITDA, Anda harus menggantinya dengan kata 'laba omong kosong'," tutur Munger, dikutip dari The Economic Times, Selasa (3/8/2026).

Pandangan serupa disampaikan Warren Buffett. Menurut investor yang dijuluki Oracle of Omaha itu, mengabaikan biaya depresiasi sama saja mengabaikan pengeluaran nyata yang pasti akan dihadapi perusahaan di masa depan.

Buffett mencontohkan investasi Berkshire Hathaway di bisnis pipa gas. Meski aset tersebut dapat menghasilkan pendapatan dalam jangka panjang, perusahaan tetap harus mengeluarkan biaya besar untuk memperbaiki atau mengganti infrastruktur yang mengalami penyusutan.

"Saya memikirkan sangat sedikit bisnis di mana depresiasi bukanlah pengeluaran nyata. Pada suatu saat, aset-aset itu akan membutuhkan perbaikan. Depresiasi itu nyata dan merupakan jenis pengeluaran terburuk," kata Buffett.

Ia bahkan memberikan peringatan keras kepada investor agar tidak mudah percaya pada perusahaan yang terlalu mengandalkan EBITDA.

"Orang-orang yang menggunakan EBITDA entah mencoba menipu Anda atau mereka menipu diri mereka sendiri," tegas Buffett.

Kritik Buffett tidak berhenti pada EBITDA. Dalam surat tahunan Berkshire Hathaway tahun 2017, ia juga menyoroti semakin banyak perusahaan yang menyajikan 'laba yang disesuaikan' atau adjusted earnings agar terlihat lebih tinggi dibandingkan laba berdasarkan standar akuntansi atau GAAP.

Menurut Buffett, beberapa manajemen sengaja menghilangkan pos-pos pengeluaran tertentu, seperti biaya restrukturisasi maupun kompensasi berbasis saham, demi menghasilkan angka laba yang tampak lebih menarik di mata investor.

"Terlalu banyak manajemen mencari berbagai cara untuk melaporkan, bahkan menampilkan, laba yang disesuaikan lebih tinggi daripada laba GAAP perusahaan mereka," tulis Buffett.

Baca Juga: Warren Buffett Sebut Dirinya Salah Satu Orang Paling Beruntung di Dunia, Ini Alasannya