Di sisi lain, Vidjongtius menekankan bahwa ide bisnis yang telah dipilih tidak cukup hanya dibicarakan secara informal. Menurutnya, setiap rencana investasi perlu didukung perangkat dan mekanisme yang jelas agar proses pengembangannya dapat dipantau dan dikelola secara terukur.

“Setiap usulan untuk investasi itu selalu ada perangkatnya. Jadi tidak hanya sekadar ngomong saja, tapi ada perangkat yang sifatnya memang didokumentasi secara baik, dan ada timnya,” jelas Vidjongtius.

Dalam praktiknya, kata dia, perusahaan perlu menetapkan pihak yang bertanggung jawab terhadap setiap proyek, mulai dari project leader hingga project team. Dengan demikian, proses eksekusi memiliki struktur yang jelas dan tetap terhubung dengan jajaran direksi.

“Jadi kita ada bilang yang namanya project leader, project team itu selalu ada. Selalu nanti ada juga nempel di direksi yang mana. Sepertinya ada satu project management lah kita bilang,” ujarnya.

Vidjongtius pun menagatakan, mekanisme tersebut penting untuk meminimalkan risiko dan potensi kegagalan dalam menjalankan investasi maupun ekspansi. Bahkan ketika terjadi penundaan, pimpinan perusahaan tetap dapat mengetahui kondisi proyek beserta alasan di baliknya.

“Sehingga minimalisir masalah, minimalisir kegagalan. Seandainya ada penundaan pun, pimpinan tertinggi pun sadar, tahu itu. Bahwa, oh ada delay ya. Karena apa? Satu, dua, tiga, empat,” katanya.

Dengan sistem tersebut, Vidjongtius menilai, risiko investasi dapat dikelola dengan lebih baik. Bagi dia, inovasi dan ekspansi memang membutuhkan keberanian untuk mengambil peluang, tetapi keberanian tersebut harus diikuti mekanisme yang mampu memastikan setiap ide dapat diuji, dieksekusi, dan dipantau secara bertanggung jawab.

“Dengan dibantu demikian, itu kegagalan dalam arti investasi itu relatif boleh dibilang ter-manage dengan baik lah selama ini,” pungkas Vidjongtius.

Baca Juga: Mengenal Format Meeting Efektif di Kantor ala Vidjongtius