Di tengah pemulihan harga Bitcoin ke atas US$80.000 yang masih diwarnai kehati-hatian pasar global terhadap sentimen makro seperti harga minyak, yield AS, dan kebijakan The Fed, CEO Tokocrypto-Calvin Kizana-justru menyoroti sisi lain dari pasar kripto Indonesia: bukan soal pergerakan harga jangka pendek, melainkan soal skala dan kematangannya yang menurutnya masih belum mendapat pengakuan setara di kancah global.

"Dari perspektif saya, Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underated, potensinya paling dipandang sebelah mata," ujar Calvin dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia's Crypto Market di acara Coinfest Asia 2026 pada akhir Agustus.

Baca Juga: Industri Kripto Makin Menarik, Jumlah Investor Naik 50% pada November 2025

Klaim ini didukung data global. Dalam Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari 151 negara untuk tingkat adopsi kripto grassroots-mengungguli negara-negara yang justru lebih dikenal sebagai hub kripto regional, seperti Singapura, yang tidak masuk 10 besar dalam indeks yang sama.

Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta pada Juli 2026, dengan nilai transaksi aset kripto sebesar Rp20,52 triliun-skala yang ditopang oleh basis ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mendekati US$100 miliar pada 2025 (e-Conomy SEA 2025, Google-Temasek-Bain & Company).

"Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," tegas Calvin.

Menurut Calvin, Indonesia kerap luput dari sorotan karena dua asumsi keliru yang sering dipakai pelaku industri global. Pertama, anggapan bahwa Asia Tenggara bisa didekati dengan satu strategi yang sama untuk semua negara - padahal regulasi, perilaku pembayaran, budaya, hingga ekspektasi konsumen di tiap negara sangat berbeda. Kedua, keyakinan bahwa modal besar bisa menggantikan pemahaman terhadap pasar lokal, termasuk mengandalkan strategi influencer marketing agresif untuk mendulang pengguna secara cepat.

"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," ujarnya.

Karena itu, menurut Calvin, perkembangan pasar kripto Indonesia tidak lagi cukup dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna. Tahap berikutnya adalah memperdalam ekosistem melalui partisipasi institusional yang lebih kuat, integrasi dengan ekosistem keuangan, serta pengembangan utilitas aset kripto. "Peluangnya sekarang adalah bergerak dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi," ujar Calvin.

Perubahan fokus ini juga menuntut pendekatan yang berbeda dari pelaku industri yang ingin masuk ke pasar Indonesia. Calvin menilai salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan proyek dengan pendanaan besar adalah meyakini bahwa modal bisa menggantikan pemahaman terhadap pasar lokal - termasuk mengandalkan strategi influencer marketing secara agresif untuk mendulang pengguna dengan cepat.

"Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara, tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas," ujarnya.

Menurut Calvin, kepercayaan justru dibangun melalui fondasi yang lebih mendasar. Ia menyebut penguatan tata kelola bukan hal baru bagi Tokocrypto. Perusahaan telah memiliki sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27017 untuk sistem manajemen keamanan informasi dan keamanan cloud, menerapkan arsitektur keamanan berlapis dengan pemantauan 24/7, serta verifikasi dua faktor dan biometrik bagi pengguna.

Tokocrypto juga secara rutin mempublikasikan laporan Proof of Reserves, terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta menjadi pengurus di Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) dan anggota aktif Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).

Fondasi ini pula yang menjadi alasan mengapa strategi generik tidak akan bekerja di pasar seunik Indonesia. Menutup pandangannya, Calvin menegaskan bahwa memahami karakteristik lokal - bukan sekadar mengandalkan modal atau strategi regional - adalah kunci bagi pelaku industri yang ingin bertahan di Indonesia.

"Jangan pernah menyalin mentah-mentah strategi yang berhasil di negara asal Anda," tutup Calvin.