Growthmates, mendorong inovasi dan ekspansi bisnis tidak selalu harus berawal dari jajaran direksi. Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk periode 2017-2024, Vidjongtius, mengatakan, perusahaan justru perlu membuka ruang seluas-luasnya bagi karyawan untuk menyampaikan ide, termasuk peluang ekspansi yang mereka temukan di lapangan.
Menurut Vidjongtius, karyawan dari berbagai level memiliki kesempatan untuk melihat peluang bisnis yang mungkin tidak selalu terlihat oleh jajaran pimpinan.
Karena itu, kata dia, perusahaan perlu memiliki sistem yang memungkinkan ide tersebut disampaikan, dikembangkan, dan kemudian dipertimbangkan untuk dieksekusi.
“Kalau secara ide untuk ekspansi, itu bisa berlaku ke semua orang. Karena kita sudah punya konvensi untuk inovasi. Semua orang boleh partisipasi dalam konvensi inovasi,” papar Vidjongtius, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.
Lebih jauh, Vidjongtius mengatakan, perusahaan yang belum memiliki sistem serupa sebaiknya mulai membuka jalur komunikasi agar ide dari karyawan dapat disampaikan secara lebih luas.
Menurutnya, seorang manajer pun sudah memiliki kemampuan untuk melihat peluang, terlebih mereka yang berhadapan langsung dengan pasar dan konsumen.
“Bagi yang memang company yang belum punya sistem seperti itu, ya mestinya penyampaian ide harus dibuka lebar-lebar. Manajer sudah bisa mikir kan, ada opportunity apa, apalagi orang marketing misalnya, di lapangan ketemu apa, kawasannya akan terbuka,” katanya.
Namun, membuka ruang bagi munculnya ide bukan berarti seluruh gagasan dapat langsung dieksekusi. Menurut Vidjongtius, direksi tetap memiliki peran penting untuk menyeleksi dan menentukan ide mana yang memiliki potensi terbaik untuk dikembangkan menjadi inovasi maupun ekspansi bisnis.
“Mestinya direksi membuka peluang untuk mereka menyampaikan ide-ide itu. Sehingga ide itu bisa digodok, nah direksinya yang memutuskan,” ujar Vidjongtius.
Vidjongtius pun menilai, peluang untuk mengusulkan ekspansi seharusnya tidak dibatasi hanya pada CEO atau jajaran tertinggi perusahaan. Justru, lanjut dia, keterlibatan karyawan dan manajemen di berbagai level dapat memperkaya perspektif perusahaan dalam melihat peluang baru.
“Ide ekspansi itu mestinya bisa seluas-luasnya. Tidak harus hanya CEO saja, sayang sekali. Tapi level manajer terutama itu semua sudah bisa untuk ikut di dalam partisipasi,” tuturnya.
Baca Juga: Belajar Leadership dari Vidjongtius, Strategi Bisnis Harus Selaras dengan Kompetensi SDM
Di sisi lain, Vidjongtius menekankan bahwa ide bisnis yang telah dipilih tidak cukup hanya dibicarakan secara informal. Menurutnya, setiap rencana investasi perlu didukung perangkat dan mekanisme yang jelas agar proses pengembangannya dapat dipantau dan dikelola secara terukur.
“Setiap usulan untuk investasi itu selalu ada perangkatnya. Jadi tidak hanya sekadar ngomong saja, tapi ada perangkat yang sifatnya memang didokumentasi secara baik, dan ada timnya,” jelas Vidjongtius.
Dalam praktiknya, kata dia, perusahaan perlu menetapkan pihak yang bertanggung jawab terhadap setiap proyek, mulai dari project leader hingga project team. Dengan demikian, proses eksekusi memiliki struktur yang jelas dan tetap terhubung dengan jajaran direksi.
“Jadi kita ada bilang yang namanya project leader, project team itu selalu ada. Selalu nanti ada juga nempel di direksi yang mana. Sepertinya ada satu project management lah kita bilang,” ujarnya.
Vidjongtius pun menagatakan, mekanisme tersebut penting untuk meminimalkan risiko dan potensi kegagalan dalam menjalankan investasi maupun ekspansi. Bahkan ketika terjadi penundaan, pimpinan perusahaan tetap dapat mengetahui kondisi proyek beserta alasan di baliknya.
“Sehingga minimalisir masalah, minimalisir kegagalan. Seandainya ada penundaan pun, pimpinan tertinggi pun sadar, tahu itu. Bahwa, oh ada delay ya. Karena apa? Satu, dua, tiga, empat,” katanya.
Dengan sistem tersebut, Vidjongtius menilai, risiko investasi dapat dikelola dengan lebih baik. Bagi dia, inovasi dan ekspansi memang membutuhkan keberanian untuk mengambil peluang, tetapi keberanian tersebut harus diikuti mekanisme yang mampu memastikan setiap ide dapat diuji, dieksekusi, dan dipantau secara bertanggung jawab.
“Dengan dibantu demikian, itu kegagalan dalam arti investasi itu relatif boleh dibilang ter-manage dengan baik lah selama ini,” pungkas Vidjongtius.
Baca Juga: Mengenal Format Meeting Efektif di Kantor ala Vidjongtius