Hal serupa juga ditemukan dalam industri otomotif, khususnya pada bahan baku filter yang hingga kini masih sepenuhnya bergantung pada impor.

“Ketika kita kunjungan ke industri, ternyata bahan baku filter otomotif itu 100% impor,” kata Siti.

Padahal, berdasarkan kajian ilmiah, komponen utama filter adalah selulosa, zat yang juga dapat diperoleh dari limbah kelapa sawit.

Dengan pendekatan riset yang berbasis literatur dan kebutuhan industri, kata Siti, tim peneliti kemudian mengembangkan selulosa sawit menjadi berbagai jenis filter, seperti filter AC, oli, hingga udara.

“Bahan baku filter ini salah satu adalah selulosa. Mutlak itu adalah selulosa,” jelasnya.

Siti menambahkan, dorongan untuk melakukan penelitian ini muncul dari temuan-temuan di lapangan yang menunjukkan adanya peluang besar untuk substitusi impor.

Kombinasi antara riset akademik, observasi industri, dan kebutuhan pasar menjadi landasan utama dalam pengembangan inovasi tersebut.

“Atas dasar kejadian-kejadian seperti itu, menimbulkan keinginan seorang peneliti untuk meneliti supaya bisa substitusi impor lagi,” ujarnya.

Kini, pemanfaatan limbah sawit terus dikembangkan ke berbagai sektor lain, mulai dari perlengkapan keselamatan seperti helm hingga produk fashion berbasis material ramah lingkungan.

“Jadi selulosa-nya yang ada di belakang sawit diubah menjadi filter AC, oli, udara yang pakai otomotif itu, rompi anti-peluru helm, fashion, atas kebutuhan yang di industri tadi,” terang Siti.

Siti pun menuturkan, penelitian ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta kemampuan ilmiah yang mumpuni untuk mengolahnya menjadi solusi nyata.

“Itu berarti membuktikan bahwa sebetulnya sumber daya alam kita dan kemampuan kita di ilmu itu bisa,” tegas Siti.

Baca Juga: Harapan Peneliti IPB University ke Astra Group