Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor terus didorong melalui berbagai inovasi riset.

Salah satunya datang dari peneliti Pusat Studi Sawit IPB sekaligus dosen IPB University, Siti Nikmatin, yang mengembangkan pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi produk bernilai tinggi dan strategis bagi industri nasional.

Menurut Siti Nikmatin, arah penelitian yang ia lakukan berangkat dari kebutuhan nyata di masyarakat dan industri, bukan sekadar eksplorasi ilmiah semata.

Ia menekankan bahwa inovasi harus mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi Indonesia saat ini.

“Jadi saat ini, pertimbangan inovasi itu adalah kebutuhan real di masyarakat,” tutur Siti Nikmatin saat ditemui Olenka, di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Salah satu contoh nyata adalah pengembangan rompi anti-peluru. Selama ini, bahan utama rompi tersebut berasal dari serat kevlar yang diproduksi di luar negeri dan masih bergantung pada impor.

Kondisi ini, kata Siti, mendorong tim peneliti untuk mencari alternatif berbasis sumber daya lokal.

“Fakta mengungkapkan bahwa bahan baku rompi anti-peluru itu yang utama adalah kevlar. Serat kevlar itu patennya punya luar, produksinya masif juga di luar. Indonesia sebagian besar mengimpor barang itu,” jelas Siti.

Dari situ, penelitian diarahkan pada pemanfaatan alpha cellulose yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit.

Hasilnya, riset tersebut berhasil membuktikan bahwa material lokal mampu menjadi pengganti yang kompetitif.

“Riset berjalan, ternyata bisa terbukti bahwa saya bisa menciptakan rompi anti-peluru yang kaliber 9x19 mili tidak tembus, sesuai dengan persyaratan TNI AD,” ungkapnya.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa limbah sawit tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga potensi besar sebagai bahan baku produk berteknologi tinggi.

Baca Juga: Komitmen Dosen IPB: Riset Limbah Sawit untuk Lingkungan dan Bukti Nyata Manfaatnya

Hal serupa juga ditemukan dalam industri otomotif, khususnya pada bahan baku filter yang hingga kini masih sepenuhnya bergantung pada impor.

“Ketika kita kunjungan ke industri, ternyata bahan baku filter otomotif itu 100% impor,” kata Siti.

Padahal, berdasarkan kajian ilmiah, komponen utama filter adalah selulosa, zat yang juga dapat diperoleh dari limbah kelapa sawit.

Dengan pendekatan riset yang berbasis literatur dan kebutuhan industri, kata Siti, tim peneliti kemudian mengembangkan selulosa sawit menjadi berbagai jenis filter, seperti filter AC, oli, hingga udara.

“Bahan baku filter ini salah satu adalah selulosa. Mutlak itu adalah selulosa,” jelasnya.

Siti menambahkan, dorongan untuk melakukan penelitian ini muncul dari temuan-temuan di lapangan yang menunjukkan adanya peluang besar untuk substitusi impor.

Kombinasi antara riset akademik, observasi industri, dan kebutuhan pasar menjadi landasan utama dalam pengembangan inovasi tersebut.

“Atas dasar kejadian-kejadian seperti itu, menimbulkan keinginan seorang peneliti untuk meneliti supaya bisa substitusi impor lagi,” ujarnya.

Kini, pemanfaatan limbah sawit terus dikembangkan ke berbagai sektor lain, mulai dari perlengkapan keselamatan seperti helm hingga produk fashion berbasis material ramah lingkungan.

“Jadi selulosa-nya yang ada di belakang sawit diubah menjadi filter AC, oli, udara yang pakai otomotif itu, rompi anti-peluru helm, fashion, atas kebutuhan yang di industri tadi,” terang Siti.

Siti pun menuturkan, penelitian ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta kemampuan ilmiah yang mumpuni untuk mengolahnya menjadi solusi nyata.

“Itu berarti membuktikan bahwa sebetulnya sumber daya alam kita dan kemampuan kita di ilmu itu bisa,” tegas Siti.

Baca Juga: Harapan Peneliti IPB University ke Astra Group