Dari kasus ini, Tito terus menorehkan sejumlah prestasi gemilang lainnya, tiga tahun setelahnya ia ditugaskan di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya. Kesuksesannya memberantas terorisme Tanah Air semakin melambungkan namanya. Ketika itu, Tito memimpin tim antiteror yang yang beranggotakan 75 personil.
Prestasi Tito di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya tidak kaleng-kaleng, banyak capaian yang ia torehkan sewaktu mengampuh divisi ini, namun yang paling menggemparkan publik adalah ketika Tito melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005.
Dari capaiannya ini, Tito kembali diganjar kenaikan pangkat luar biasa menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes).
Beberapa tahun setelahnya tepatnya pada 2007, Tito kembali membuat publik terbelalak, ia berhasil memimpin timnya menangkap buronan kasus konflik Poso pada 2007. Tito memang tak terbendung, dua tahun setelahnya Tito berhasil membengkuk pimpinan teroris Noordin M Top.
Prestasi mentereng Tito memberantas terorisme membuat dirinya ditugaskan ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), namun tak lama berselang ia ditugaskan menjadi Kapolda Papua.
Di Bumi Cenderawasih, Tito tak menghabiskan waktu lama, di sana ia hanya bertugas selama dua tahun terhitung sejak 2012 hingga 2014.
Setahun setelahnya, Tito benar-benar memuncaki karier kepolisian. Nama semakin melambung setelah didapuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Kasus Bom Sarinah Thamrin, Jakarta kembali meledakan namanya di angkasa.
Dari sini Tito ditunjuk menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) setelah hanya sembilan bulan menjabat Kapolda. Pangkatnya pun ikut naik dari Inspektur Jenderal Polisi (IRJEN) jadi Komisaris Jenderal Polisi (KOMJEN).
Baru tiga bulan di BNPT, ia sudah diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti karena pensiun.
Penunjukkan Tito memotong karier seniornya yang berpeluang untuk menjadi Kapolri. Para seniornya yang berbintang tiga masih banyak, termasuk Wakapolri Budi Gunawan.
Meski demikian, Nama Tito tetap diajukan oleh presiden ke DPR dan dapat respon positif. Presiden pun melantik Tito menjadi Kapolri sejak Juni 2016. Tentunya dengan diiringi pangkat bintang empat menjadi Jenderal (Pol) Tito Karnavian.
Karier Tito tidak berhenti di situ saja, di luar dunia kepolisian ia juga mendulang sukses besar, saat masih menjabat Kapolri, Tito diminta menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden Joko Widodo. Ia resmi dilantik pada 23 Oktober 2019. Jabatan Mendagri itu masih ia emban sampai di era Presiden Prabowo Subianto.