Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut menyoroti hubungan Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas di tengah alotnya negosiasi kedua negara yang berlangsung di Jenewa. 

SBY punya pandangan berbeda, ketika banyak pihak menilai gagalnya negosiasi kedua negara dapat memantik perang terbuka, SBY mengatakan perang mungkin saja terjadi dan bisa juga tidak, tetapi yang pasti kata kepala negara yakni Donald Trump dan Ali Khamenei tak mungkin gegabah memutuskan perang, mereka jelas menghitungnya secara terperinci mengenai untung rugi keputusan perang. 

Baca Juga: Low Tuck Kwong Beli Lukisan Kuda Api SBY Senilai Rp6,5 Miliar

"Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," tulis SBY, dalam pernyataan di akun X @SBYudhoyono, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Dari kacamata pemimpin negara yang menjadi panglima tertinggi, perang bukanlah keputusan yang gampang diambil, untuk mengambil kebijakan itu kepala negara perlu berbagai pertimbangan rasional. Sebelum benar-benar mengambil keputusan itu, para kepala negara lanjut SBY biasanya terlebih dahulu menjawab sederet pertanyaan fundamental apakah perang benar-benar sebuah keharusan (war of necessity) atau sekadar pilihan politik (war of choice).

"Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut war of necessity dan war of choice," ujarnya.

SBY melanjutkan, keputusan memulai perang bakal diambil ketika sebuah negara sudah yakin bisa memenangi pertarungan tersbut, jadi ketika kemungkinan menang perang itu kecil para pemimpinnya bakal memilih cara lain misalnya melanjutkan negosiasi. 

Ia pun mengingatkan pengalaman AS di Vietnam, Irak dan Afghanistan sebagai pelajaran mahal tentang sulitnya meraih kemenangan, sekaligus menemukan jalan keluar terhormat dari medan perang.

"Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," pesan SBY, mengisyaratkan kompleksitas geopolitik dan kekuatan domestik Iran yang berbeda.

Baca Juga: 'Prabowo Bantah Lobi-Lobi SBY'

Dalam persoalan AS- Iran, SBY berpandangan bahwa Trump dan  Khamenei sama-sama mempertaruhkan kepentingan besar. Trump bakal mempertaruhkan reputasi dan legacy politiknya sedangkan Khamenei mempertaruhkan apa yang disebut survival interest, yakni keberlangsungan rezim dan stabilitas internal Iran.

"Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for," tandasnya