Growthmates, telur ceplok atau telur dadar, mana yang lebih sehat? Pertanyaan ini kerap muncul, terutama bagi masyarakat yang sedang berusaha menjaga pola makan dan memilih makanan dengan kandungan gizi yang lebih baik.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak terdapat perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar.
Perbedaan yang lebih mencolok justru berasal dari cara pengolahannya, terutama jumlah minyak serta bahan tambahan yang digunakan.
“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” terang Dr. Karina, sebagaimana dikutip Olenka dari laman IPB University, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, telur dadar berpotensi memiliki kandungan kalori dan lemak lebih tinggi karena proses memasaknya cenderung membuat telur menyerap lebih banyak minyak. Kandungan energi juga dapat bertambah apabila telur dadar diberi bahan tambahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang.
Di sisi lain, proses memasak telur sebenarnya memberikan manfaat terhadap kualitas proteinnya. Dr. Karina menjelaskan, pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.
“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen,” jelasnya.
Meski memasak dapat meningkatkan daya cerna protein, Dr. Karina mengingatkan agar telur tidak dipanaskan pada suhu terlalu tinggi dalam waktu lama.
Suhu memasak yang dianjurkan berada di kisaran 60–80 derajat Celsius, sementara pemanasan di atas 150–160 derajat Celsius berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizi telur.
Baca Juga: Benarkah Makan Banyak Telur Menyebabkan Bisul? Ahli Gizi Jelaskan Faktanya
Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, ia menyarankan metode pengolahan yang minim atau tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, maupun mengukus telur. Namun, bukan berarti telur ceplok dan telur dadar harus dihindari.
Keduanya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat selama penggunaan minyak diperhatikan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan wajan antilengket atau minyak semprot sehingga jumlah minyak yang digunakan dapat ditekan.
Dr. Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur sebaiknya dihindari karena mengandung kolesterol. Menurutnya, kuning telur justru merupakan sumber berbagai vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan tubuh.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.
Peningkatan kadar kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh pola konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, termasuk ketika makanan tersebut dikonsumsi bersamaan dengan sumber kolesterol.
Karena itu, masyarakat tidak perlu ragu menjadikan telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah konsumsi, bahan tambahan, serta metode pengolahan yang digunakan agar manfaat gizi telur tetap optimal.
Baca Juga: 5 Resep Masker Rambut Berbahan Telur untuk Rambut Selembut Sutra Tanpa Bau Amis